PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN

11 01 2010

PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN
Oleh : Taman Firdaus, Banu Hasta, Sholahuddin & Evi Roni

1. PENGERTIAN

Istilah pengembangan sistem instruksional (instructional system development) dan desain instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak dibedakan secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan antara “desain” dan “pengembangan”. Kata “desain” berarti membuat sketsa atau pola atau outline atau rencana pendahuluan. Sedang “Pengembangan” berarti membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif dan sebagainya (Harjanto, 2008 : 95).
Beberapa definisi yang menunjukkan persamaan antara keduanya adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan sistem intruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pembelajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitasnya dan praktis bisa dilaksanakan (Ely, 1979 : 4).
2. Sistem Intruksional adalah semua materi pelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan senyatanya (Baker, 1971 : 16). Dengan kata lain bahwa sistem intruksional merupakan tatanan aktifitas belajar mengajar.
3. Desain intruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan tekhnik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar (Briggs, 1979 : 20).
4. Desain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan intruksional. Semua konsep sistem ini (tujuan, materi, metode, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lai dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut lebih dahulu diuji coba efektifitasnya sebelum disebarluaskan penggunaannya (Briggs, 1979 : XXI).
5. Pengembangan sistem intruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya (Carrey 1977 : 6).
Desain Pembelajaran adalah disiplin yang berhubungan dengan pemahaman dan perbaikan satu aspek dalam pendidikan yaitu proses pembelajaran. Tujuan kegiatan membuat desain pembelajaran adalah menciptakan sarana yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Sehingga disiplin desain pembelajaran terutama berkenaan dengan perumusan metode-metode pembelajaran yang menghasilkan perubahan yang diinginkan dalam pengetahuan dan keterampilan siswa.
John Dewey (1900) menyatakan bahwa pendidikan memerlukan “linking science” antara teori belajar dan praksis pendidikan. Desain pembelajaran dianggap sebagai penghubung antara keduanya karena desain pembelajaran adalah pengetahuan yang merumuskan tindakan pembelajaran untuk mencapai outcome pembelajaran.
Aspek desain pembelajaran meliputi dua wilayah utama yaitu (1) psikologi, khususnya teori belajar, dan (2) media dan komunikasi. Tetapi media dan komunikasi seakan memberikan kontribusi prinsip dan strategi secara terpisah pada desain pembelajaran, tidak seperti teori belajar yang memberikan model terintegrasi. Desain pembelajaran lebih banyak didukung oleh teori belajar.

HUBUNGAN ANTARA DESAIN PEMBELAJARAN DENGAN PENDIDIKAN:
Secara umum bidang pendidikan terdiri dari kurikulum, konseling, administrasi, evaluasi, dan pembelajaran. Nampaknya terdapat overlap antara kurikulum dan pembelajaran. Namun kita dapat membedakan keduanya. Kurikulum terutama berkenaan dengan apa yang akan diajarkan, sementara pembelajaran adalah bagaimana mengajarkannya.

Di bawah ini penjelasan hubungan antara pembelajaran dengan kelima kawasan pembelajaran:
Pembelajaran
Bidang pembelajaran terdiri dari lima kegiatan pokok: desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. Masing-masing kegiatan dilakukan oleh orang yang kompeten dalam bidang pembelajaran. Kegiatan ini berkenaan dengan pemahaman dan perbaikan cara-cara untuk mencapai hasil yang optimal.

Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran berhubungan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan metode-metode pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses penentuan metode pembelajaran yang tepat untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan dalam diri siswa yang berkaitan dengan pengetahuan dang keterampilan sesuai dengan isi pembelajaran dan siswa tertentu. Ibarat orang yang akan membuat rumah, desain pembelajaran adalah blueprint yang dibuat oleh seorang arsitek. Blueprint ini menyatakan metode apa yang seharusnya digunakan untuk materi dan siswa tertentu. Desain pembelajaran menuntut pengetahuan tentang berbagai metode pembelajaran, bagaimana memadukan metode-metode yang ada, dan situasi-situasi yang memungkinkan penggunaan metode-metode tersebut secara optimal.

Pengembangan Pembelajaran
Pengembangan pembelajaran berkenaan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan metode-metode dalam menciptakan pembelajaran (methods of creating instruction). Pengembangan pembelajaran merupakan proses perumusan dan penggunaan prosedur yang optimal untuk menciptakan pembelajaran baru dalam situasi tertentu. Pengembangan pembelajaran menghasilkan sumber-sumber pembelajaran yang siap pakai, diktat, dan rencana pembelajaran.

Pemanfaatan Pembelajaran
Pemanfaatan pembelajaran berhubungan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan serta penggunaan metode-metode pembelajaran yang telah dikembangkan. Pemanfaatan pembelajaran merupakan proses penentuan dan penggunaan prosedur-prosedur yang optimal untuk mencapai outcome yang optimal. Hasil dari pemanfaatan pembelajaran adalah program pembelajaran yang telah dimodifikasi sedemikan rupa sehingga menghasilkan efektivitas program yang optimal. Pemanfaatan pembelajaran menuntut pengetahuan tentang berbagai prosedur pemanfaatan, perpaduan prosedur yang optimal, dan situasi-situasi yang memungkinkan optimalisasi model-model pemanfaatan.

Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran terkait dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan metode-metode pengelolaan penggunaan program pembelajaran yang diimplementasikan. Pengelolaan yang dimaksud hanya berkenaan dengan satu program pembelajaran dalam sebuah lembaga. Pengelolaan pembelajaran merupakan proses penentuan dan penggunaan jadwal yang optimal, teknik pengumpulan data tentang kemajuan siswa dan kelemahan program, prosedur penilaian, revisi program, dan lain-lain. Hasil yang diharapkan adalah penggunaan dan pemeliharaan program pembelajaran yang diimplementasikan.

Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran berkaitan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan metode-metode penilaian efektivitas dan efisiensi kegiatan-kegiatan sebelumnya: seberapa baik program pembelajaran didesain, seberapa jauh program ini dikembangkan, apakah dimanfaatkan dengan baik, dan seberapa baik program ini dikelola. Hasil dari evaluasi ini adalah deskripsi kekurangan yang ada, konsekuensi-konsekuensinya, dan rekomendasi untuk perbaikan.

2. MODEL-MODEL PENGEMBANGAN DESAIN INTRUKSIONAL
Desain Pembelajaran (Instructional Design), merupakan perwujudan yang lebih konkrit dari Teknologi Pembelajaran. Terdapat sejumlah istilah lain yang setara diantaranya istilah Desain Sistem Pembelajaran (Instructional System Design). Demikian juga dengan istilah Pengembangan Sistem Pembelajaran (Instructional System Development).

A. Asumsi dasar yang melandasi perlunya desain pembelajaran:
1. Diarahkan untuk membantu proses belajar secara individual
2. Desain pembelajaran mempunyai fase-fase jangka pendek dan jangka panjang
3. Dapat mempengaruhi perkembangan individu secara maksimal
4. Didasarkan pada pengetahuan tentang cara belajar manusia
5. Dilakukan dengan menerapkan pendekatan sistem (System Approach)

B. Model yang desain pembelajaran yang dikembangkan:
1. Model Desain Pembelajaran Gagne dan Briggs
Gagne dan Briggs (1974: 212-213) mengemukakan 12 langkah dalam pengembangan desain intruksional sebagai berikut :
1. Analisis dan identifikasi kebutuhan
2. Penetapan tujuan umum dan khusus
3. Identifikasi alternatif cara memenuhi kebutuhan
4. Merancang komponen dari sistem
5. Analisis (a) sumber-sumber yang diperlukan (b) sumber-sumber yang tersedia (c) kendala-kendala.
6. Kegiatan untuk mengatasi kendala
7. Memilih atau mengembangkan materi pelajaran
8. Merancang prosedur penelitian murid
9. Uji coba lapangan : evaluasi formatif dan pendidikan guru.
10. Penyesuaian, revisi dan evaluasi lanjut
11. Evaluasi sumatif
12. Pelaksanaan operasional
Model tersebut di atas merupakan model yang paling lengkap yang melukiskan bagaimana suatu proses pembelajaran dirancang secara sistematis dari awal sampai akhir. Kegiatan seperti ini cocok untuk diterapkan pada suatu program pendidikan yang relatif baru. Di Indonesia prosedur tersebut mencakup mulai dari simposium dan pengembangan kurikulum yang dilakukan mulai dari tingkat sekolah (KTSP). Kemudian guru diberikan kewenangan untuk mengembangkan standar kompetensi menjadi sejumlah kompetensi dasar yang dituangkan secara eksplisit dalam silabus dan RPP.

2. Model Desain Pembelajaran Wong dan Roulerson
Wong dan Roulerson (1974) mengemukakan 6 langkah pengembangan desain intruksional yaitu:
1. Merumuskan tujuan
2. Menganalisis tujuan tugas belajar
3. Mengelompokkan tugas-tugas belajar dan memilih kondisi belajar yang tepat.
4. Memilih metode dan media
5. Mensintesiskan komponen-komponen pembelajaran
6. Melakasanakan rencana, mengevaluasi dan memberi umpan balik.

3. Model Pengembangan Desain Sistem Intruksional PPSI
PPSI merupakan singkatan dari prosedur pengembangan sistem intruksional. Istilah sistem instruksional mengandung pengertian bahwa PPSI menggunakan pendekatan sistem dimana pembelajaran adalah suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri dari seperangkat komponen yang saling berhubungan dan bekerjasama satu sama lain secara fungsional dan terpadu dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
Dengan demikian PPSI adalah suatu langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran sebagai suatu sistem dalam rangka untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien (Harjanto, 2008 : 75). Model pengembangan intruksional PPSI ini memiliki 5 langkah pokok yaitu:
1. Perumusan tujuan/kompetensi
Merumuskan tujuan/kompetensi beserta indicator ketercapaiannya yang harus memenuhi 4 kriteria sebagai berikut:
a. Menggunakan istilah yang operasional
b. Berbentuk hasil belajar
c. Berbentuk tingkah laku
d. Hanya satu jenis tingkah laku
2. Pengembangan alat penilaian
a. Menentukan jenis tes/intrumen yang akan digunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan
b. Merencanakan pertanyaan (item) untuk menilai masing-masing tujuan
3. Kegiatan belajar
a. Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan
b. Menetapkan kegiatan belajar yang tak perlu ditempuh
c. Menetapkan kegiatan yang akan ditempuh
4. Pengembangan program kegiatan
a. Merumuskan materi pelajaran
b. Menetapkan model yang dipakai
c. Alat pelajaran/buku yang dipakai
d. Menyusun jadwal
5. Pelaksanaan
a. Mengadakan pretest
b. Menyampaikan materi pelajaran
c. Mengadakan posttest
d. Perbaikan

4. Model J.E. Kemp
Menurut Kemp (1977) pengembangan intruksional atau desain intruksional itu terdiri dari 8 langkah yaitu :
1. Menentukan tujuan intruksional umum (TIU) atau Standar Kompetensi.
2. Menganalisis karakteristik peserta didik
3. Menentukan TIK atau Kompetensi Dasar.
4. Menentukan materi pelajaran
5. Menetapkan penjajagan awal (pre test)
6. Menentukan strategi belajar mengajar
7. Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas, alat, waktu dan tenaga.
8. Mengadakan evaluasi
5. Model Briggs
Pengembangan desain intruksional model Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang bekerja sebagai perancang atau desainer kegiatan intruksional maupun tim pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional.
Model pengembangan intruksional Briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara a) tujuan yang akan dicapai, b) strategi untuk mencapainya, dan c) evaluasi keberhasilannya. Langkah pengembangan dimaksud dirumuskan kedalam 10 langkah pengembangan yaitu :
1. Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan
2. Penyusunan garis besar kurikulum/rincian tujuan kebutuhan instruksional yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus dirinci, disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
3. Perumusan tujuan
4. Analisis tugas/tujuan
5. Penyiapan evaluasi hasil belajar
6. Menentukan jenjang belajar
7. Penentuan kegiatan belajar.
8. Pemantauan bersama
9. Evaluasi formatif
10. Evaluasi sumatif

6. Model Gerlach dan Ely
Model pengembangan desain intruksional yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely (1971) ini dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar.. Menurut Gerlach dan Ely (1971), langkah-langkah dalam pengembangan desain intruksional terdiri dari :
1. Merumuskan tujuan instruksional
2. Menentukan isi materi pelajaran
3. Menentukan kemampuan awal peserta didik
4. Menentukan teknik dan strategi
5. Pengelompokan belajar
6. Menentukan pembagian waktu
7. Menentukan ruang
8. Memilih media intruksional yang sesuai
9. Mengevaluasi hasil belajar
10. Menganalisis umpan balik
7. Model Bela H. Banathy

Menurut Banathy, secara garis besar pengembangan desain intruksional meliputi enam langkah pokok yaitu :
1. Merumuskan tujuan
2. Mengembangkan tes
3. Menganalisis kegiatan belajar
4. Mendesain sistem intruksional
5. Melakasanakan kegiatan dan mengetes hasil
6. Merumuskan tujuan intruksional

8. Model Dick and Carey
Tahapan model pengembangan sistem pembelajaran menurut Dick and Carey (1937 : 1) dibagi menjadi 10 tahapan yaitu:
1. Menganalisis Tujuan Pembelajaran.
2. Melakukan Analisis Pembelajaran.
3. Menganalisis siswa dan konteks.
4. Merumuskan tujuan khusus.
5. Mengembangkan instrumen penilaian.
6. Mengembangkan strategi pembelajaran.
7. Mengembangkan materi pembelajaran.
8. Merancang & Mengembangkan Evaluasi Formatif.
9. Merevisi Pembelajaran.
10. Merancang dan Mengembangkan Evaluasi Summatif

9. Model Desain Pembelajaran Versi Pekerti (2001)
Dikti, melalui Program Pekerti (Pengembangan Ketrampilan Dasar Teknik Instruksional), yang dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan Pendidikan Tinggi mengembangkan model desain pembelajaran yang dikenal dengan MPI (Model Pengembangan Instruksional), dimana untuk mengembangkan sebuah desain pembelajaran diperlukan 8 langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan instruksional umum (TIU)
2. Melakukan analisis instruksional
3. Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa
4. Menuliskan tujuan instruksional khusus (TIK)
5. Menulis tes acuan patokan
6. Menyusun strategi instruksional
7. Mengembangkan bahan ajar
8. Menyusun desain dan melaksanakan evaluasi formatif

Model Pengembangan Instruksional (MPI) versi Pekerti, 2001
Dalam rangka implementasi kurikulum yang sedang berlaku, sejumlah istilah yang menyangkut langkah-langkah tersebut sudah harus disesuaikan dengan perkembangan (trend) yang terjadi. Namun, secara konseptual, sebagai referensi model-model tersebut kiranya sangat bermanfaat untuk dikaji dan diimplementasikan dimana konsep-konsep tertentu masih relevan.

C. Memilih Model Desain Pembelajaran
Oleh karena begitu banyaknya model biasanya kita lalu dihadapkan pada pertanyaan mau pakai model yang mana? Dalam hal memilih model ini setidaknya ada lima criteria yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam memilih model pengembangan desain pembelajaran. Model yang baik adalah model yang:

1. Sederhana: bentuk yang sederhana akan mempermudah untuk mengerti, mengikuti dan menggunakannya
2. Lengkap: suatu model pengembangan desain pembelajaran yang lengkap haruslah mengandung 3 unsur pokok yaitu: identifikasi, pengembangan dan evaluasi
3. Mungkin diterapkan: artinya model yang dipilih hendaklah dapat diterima dan dapat diterapkan (applicable), sesuai dengan situasi dan kondisi setempat
4. Luas: jangkauan model tersebut hendaklah cukup luas, tidak saja berlaku untuk pola belajar mengajar yang konvensional, tetapi juga proses belajar mengajar yang lebih luas, baik yang menghendaki kehadiran guru secara fisik maupun yang tidak
5. Teruji: model yang bersangkutan telah dipakai secara luas dan teruji/terbukti dapat memberikan hasil yang baik.
Apabila model-model yang sudah ada ternyata tidak ada yang memenuhi kelima criteria tersebut maka masih ada kemungkinan untuk mengembangkan model yang baru yang sesuai dengan sikon kita. Bisa dengan menciptakan yang baru atau cukup dengan memodifikasi model yang sudah ada.

3. PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN
Pengembangan desain pembelajaran dipengaruhi oleh prosedur-prosedur desain pembelajaran, namun prinsip-prinsip umumnya berasal dari aspek-aspek komunikasi disamping proses belajar. Perkembangannya selain dipengaruhi oleh teori komunikasi juga oleh teori-teori proses auditori dan visual, proses berpikir visual, dan estetika. Teori berfikir sangat berguna dalam pengembangan materi pembelajaran terutama dalam mencari ide untuk perlakuan visual. Berfikir visual merupakan reaksi internal. Berfikir visual ini meliputi lebih banyak manipulasi bayangan mental dan asosiasi sensor dan emosi daripada tahap berpikir yang lain (Seels, 1993). Arnheim (1972) menjelaskan berfikir visual sebagai fikiran kiasan, dan dibawah sadar. Berfikir visual menuntut kemampuan mengorganisasi bayangan sekitar unsur-unsur visual digunakan untuk membuat pernyataan visual yang memberikan dampak besar terhadap proses belajar orang pada semua usia.
Aplikasi teori belajar visual berfokus pada perancangan visual yang merupakan bagian penting dalam berbagai tipe pembelajaran yang menggunakan media. Dalam hal ini, prinsip-prinsip estetika juga merupakan dasar proses pengembangan (Schwier, 1987). Heinich, Molenda, dan Russel (1993) mengidentifikasi unsur kunci seni yang digunakan dalam perancangan visual (pengaturan, keseimbangan, dan kesatuan). Kecuali ini masih banyak lagi daftar unsur dan prinsip perancangan visual yang lain. (Curtis, 1987; Dondis, 1973). Prinsip komunikasi visual juga memberi arah yang mendasar dalam pengembangan materi pembelajaran. Prinsip-prinsip ini digunakan sebagai panduan dalam merancang dan mengedit grafik (Petterson, 1993; Wilson dan Houghton, 1987). Dalam perkembangannya selama beberapa abad, desain komunikasi visual menurut Cenadi (1999:4) mempunyai tiga fungsi dasar, yaitu sebagai sarana identifikasi, sebagai sarana informasi dan instruksi, dan yang terakhir sebagai sarana presentasi dan promosi.

a. Desain Komunikasi Visual Sebagai Sarana Identifikasi
Fungsi dasar yang utama dari desain komunikasi visual adalah sebagai sarana identifikasi. Identitas seseorang dapat mengatakan tentang siapa orang itu, atau dari mana asalnya. Demikian juga dengan suatu benda, produk ataupun lembaga, jika mempunyai identitas akan dapat mencerminkan kualitas produk atau jasa itu dan mudah dikenali, baik oleh baik oleh produsennya maupun konsumennya. Kita akan lebih mudah membeli minyak goreng dengan menyebutkan merek X ukuran Y liter daripada hanya mengatakan membeli minyak goreng saja. Atau kita akan membeli minyak goreng merek X karena logonya berkesan bening, bersih, dan “sehat”.
Jika desain komunikasi visual digunakan untuk identifikasi lembaga seperti sekolah, misalnya. Maka orang akan lebih mudah menentukan sekolah A atau B sebagai favorit, karena sering berprestasi dalam kancah nasional atau meraih peringkat tertinggi di daerah itu.

b. Desain Visual Sebagai Sarana Informasi dan Instruksi
Sebagai sarana informasi dan instruksi, desain komunikasi visual bertujuan menunjukkan hubungan antara suatu hal dengan hal yang lain dalam petunjuk, arah, posisi dan skala, contohnya peta, diagram, simbol dan penunjuk arah. Informasi akan berguna apabila dikomunikasikan kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat, dalam bentuk yang dapat dimengerti, dan dipresentasikan secara logis dan konsisten.
Simbol-simbol yang kita jumpai sehari-hari seperti tanda dan rambu lalu lintas, simbol-simbol di tempat-tempat umum seperti telepon umum, toilet, restoran dan lain-lain harus bersifat informatif dan komunikatif, dapat dibaca dan dimengerti oleh orang dari berbagai latar belakang dan kalangan. Inilah sekali lagi salah satu alasan mengapa desain komunikasi visual harus bersifat universal.

c. Desain Komunikasi Visual Sebagai Sarana Presentasi dan Promosi
Tujuan dari desain komunikasi visual sebagai sarana presentasi dan promosi adalah untuk menyampaikan pesan, mendapatkan perhatian (atensi) dari mata (secara visual) dan membuat pesan tersebut dapat diingat; contohnya poster. Penggunaan gambar dan kata-kata yang diperlukan sangat sedikit, mempunyai satu makna dan mengesankan. Umumnya, untuk mencapai tujuan ini, maka gambar dan kata-kata yang digunakan bersifat persuasif dan menarik, karena tujuan akhirnya adalah menjual suatu produk atau jasa.

D. Dasar Perancangan Desain Komunikasi Visual
Pujiyanto (1998) dalam makalahnya berjudul Kreativitas dalam Merancang Desain Komunikasi Visual mengemukaan bahwa dalam penciptaan karya desain komunikasi visual terdapat berbagai masalah yang kompleks antara desainer dan klien, yang satu sama lain saling berhubungan dan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menghasilkan desain yang menarik, efektif, dan fungsional. Untuk itu diperlukan beberapa pedoman mendasar, yaitu:
a. Pangsa Pasar
Pangsa pasar merupakan kelompok yang dituju dalam menginformasikan sebuah pesan. Hal terpenting dalam hal ini adalah mengetahui latar belakang khalayak tersebut, baik dari segi usia, jenis kelamin, tingkat sosial, pendidikan, dan lainnya guna mendukung penetapan sebuah bentuk desain yang sesuai dan tepat bagi khalayak yang dituju sehingga dapat dimengerti dan dipahami.
b. Konsep Desain
Konsep desain disebut sebagai inti pesan yang berfungsi sebagai tema utama dalam sebuah desain. Konsep desain merupakan jabaran lengkap mengenai isi desain beserta gambarannya dan alasan-alasan yang kuat dalam pemilihan sebuah bentuk desain.
c. Pesan Desain
Pesan desain merupakan kesimpulan akhir dari pengolahan data pangsa pasar dan konsep desain. Kesimpulan ini mencerminkan tema utama yang menyeluruh dan mewakili desain yang disampaikan agar dapat diterima atau merupakan titik pandang utama sebuah desain bagi khalayak yang dituju.
d. Media Desain
Media desain merupakan alat atau sarana yang dapat dipakai untuk memuat pesan sebagai bentuk akhir perancangan yang meliputi berbagai media untuk menyampaikan suatu desain agar dapat didengar atau dilihat oleh khalayak yang kemudian direspon. Dalam menentukan pemilihan media desain dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukungnya yang berkaitan dengan sasaran yang ingin dituju, waktu, lokasi penempatan, dan efektivitas serta efisiensinya, karena masing-masing media memiliki karakteristik, kelebihan dan kekurangan.

E. Elemen-elemen Desain Komunikasi Visual
Christine Suharto Cenadi (1999:5) menyebutkan bahwa elemen-elemen desain komunikasi visual diantaranya adalah tipografi, ilustrasi, dan simbolisme. Elemen-elemen ini dapat berkembangan seiring dengan perkembangan teknologi dan penggunaan media.
a. Tata Letak Perwajahan (Layout)

Pengertian layout menurut Graphic Art Encyclopedia (1992:296) “Layout is arrangement of a book, magazine, or other publication so that and illustration follow a desired format”. Layout adalah merupakan pengaturan yang dilakukan pada buku, majalah, atau bentuk publikasi lainnya, sehingga teks dan ilustrasi sesuai dengan bentuk yang diharapkan.
Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa: “Layout includes directions for marginal data, pagination, marginal allowances, center headings and side head, placement of illustration.” Layout juga meliputi semua bentuk penempatan dan pengaturan untuk catatan tepi, pemberian gambar, penempatan garis tepi, penempatan ukuran dan bentuk ilustrasi. Menurut Smith (1985) dalam Sutopo (2002:174) mengatakan bahwa proses mengatur hal atau pembuatan layout adalah merangkaikan unsur tertentu menjadi susunan yang baik, sehingga mencapai tujuan.

b. Tipografi
Menurut Frank Jefkins (1997:248) tipografi merupakan:
“Seni memilih huruf, dari ratusan jumlah rancangan atau desain jenis huruf yang tersedia, menggabungkannya dengan jenis huruf yang berbeda, menggabungkan sejumlah kata yang sesuai dengan ruang yang tersedia, dan menandai naskah untuk proses typesetting, menggunakan ketebalan dan ukuran huruf yang berbeda. Tipografi yang baik mengarah pada keterbacaan dan kemenarikan, dan desain huruf tertentu dapat menciptakan gaya (style) dan karakter atau menjadi karakteristik subjek yang diiklankan.”
Wirya (1999:32) mengatakan bahwa beberapat tipe huruf mengesankan nuansa-nuansa tertentu, seperti kesan berat, ringan, kuat, lembut, jelita, dan sifat-sifat atau nuansa yang lain.

c. Ilustrasi
Ilustrasi dalam karya desain komunikasi visual dibagi menjadi dua, yaitu ilustrasi yang dihasilkan dengan tangan atau gambar dan ilustrasi yang dihasilkan oleh kamera atau fotografi. Menurut Wirya (1999:32) ilustrasi dapat mengungkapkan sesuatu secara lebih cepat dan lebih efektif daripada tekas.
Fungsi ilustrasi menurut Pudjiastuti (1997:70) adalah:
“Ilustrasi digunakan untuk membantu mengkomunikasikan pesan dengan tepat dan cepat serta mempertegas sebagai terjemahan dari sebuah judul, sehingga bisa membentuk suatu suasana penuh emosi, dari gagasan seakan-akan nyata. Ilustrasi sebagai gambaran pesan yang tak terbaca dan bisa mengurai cerita berupa gambar dan tulisan dalam bentuk grafis informasi yang memikat. Dengan ilustrasi, maka pesan menjadi lebih berkesan, karena pembaca akan lebih mudah mengingat gambar daripada kata-kata.

d. Simbolisme
Simbolisme sangat efektif digunakan sebagai sarana informasi untuk menjembatani perbedaan bahasa yang digunakan karena sifatnya yang universal dibanding kata-kata atau bahasa. Bentuk yang lebihh kompleks dari simbol adalah logo. Logo merupakan identifikasi dari sebuah perusahaan karena logo harus mampu mencerminkan citra, tujuan, jenis, serta objektivitasnya agar berbeda dari yang lainnya. Farbey (1997:91) mengatakan bahwa banyak iklan memiliki elemen-elemen grafis yang tidak hanya terdapat ilustrasi, tetapi juga terdapat muatan grafis yang penting seperti logo perusahaan atau logo merek, simbol perusahaan, atau ilustrasi produk.

e. Warna
Warna merupakan elemen penting yang dapat mempengaruhi sebuah desain. Pemilihan warna dan pengolahan atau penggabungan satu dengan lainnya akan dapat memberikan suatu kesan atau image yang khas dan memiliki karakter yang unik, karena setiap warna memiliki sifat yang berbeda-beda. Danger (1992:51) menyatakan bahwa warna adalah salah satu dari dua unsur yang menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna lebih berdaya tarik pada emosi daripada akal.

f. Animasi
Penggunaan unsur-unsur gerak atau disebut animasi khususnya dalam multimedia akan menimbulkan kesan tersendiri bagi yang melihatnya. Istanto (2001:61) mengatakan bahwa konsep dari animasi menggambarkan gerak sehingga dapat mendukung tampilan secara lebih dinamis.
Berdasarkan teknis pembuatannya, animasi dibagi menjadi dua, yaitu:
• Animasi dua dimensi (2D), adalah animasi yang berkesan datar (flat), baik itu karakter maupun warnanya.
• Animasi tiga dimensi (3D), adalah karakter yang dibuat dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan adanya kesan mendalam atau berdimensi ruang.
Penggunaan animasi dalam sebuah desain multimedia dapat menjadikan tampilan menjadi lebih menarik dan dinamis. Pemilihan jenis animasi yang digunakan bergantung pada kebutuhannya sehingga desaian yang dihasilkan dapat lebih efektif dan efisien.

g. Suara
Suara merupakan elemen pendukung yang digunakan untuk lebih menghidupkan suasana interaksi. Dalam multimedia interaktif, suara dibedakan menjadi dua, yaitu suara utama dan suara pendukung. Suara utama adalah suara yang mengiringi pengguna selama interaksi berlangsung, sedang suara pendukung merupakan suara yang terdapat pada tombol-tombol navigasi.

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto, 2008,”Perencanaan Pengajaran”, Jakarta : Rineka Cipta

Ely, Donal P. 1978,,”Instruksional Design & Development”, New York : Syracuse University Publ.

Baker, Robert L & Richard R Schutz, 1971,”Instructional Product Development”, New York : Van Nostrand Reinhold Company.

Briggs, Leslie, J. 1979,”Instruksional Design : Prinsiples and Aplication”, Educational Technology Publicatios : Englewood Cliffs, N.J.

Dick, Walter & Carey, Lou. 1937,”The Systematic design of Intrustion”, Boston : Library of Congress Cataloging-in-Publication Data

Reigeluth, Charles M. 1983, “Instructional Design Theories and Models: An Overview of their Current Status”, London, Lawrence Erlbaum Associates Publishers

Mukminan, 2004, “Desain Pembelajaran: Bahan Ajar untuk Mendukung Perkuliahan Desain Pembelajaran”, Yogyakarta, Program Pasca Sarjana UNY

Cenadi, Christine Suharto. 1999. Elemen-elemen dalam Desain Komunikasi Visual. Nirmana Vol. 1, No. 1, Januari 1999: 1-11.

Farbey, A.D. 1997. How to Produce Succesfull Advertising (Kiat Sukses Membuat Iklan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Jefkins, Frank. 1997. Periklanan. Jakarta: Erlangga

Kusmiati, A, S. Pudjiastuti & P. Suptandar. 1999. Teori Dasar Desain Komunikasi Visual. Jakarta: Djambatan

Pujiyanto, 2005. Strategi Pemasaran dalam Iklan. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sachari, Agus. 2005. Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Jakarta: Erlangga.

Seels, Barbara B. and Richey, Rita C. 1994. Instuctional Technology : The Definition and Domain of The Field. Washington DC : AECT,





ISTILAH PENTING DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

11 01 2010

BEBERAPA ISTILAH PENTING DALAM Teknologi Pembelajaran
Oleh : Taman Firdaus

Pengantar
Teknologi Pembelajaran sebagai sebuah bidang garapan tentunya selalu dihadapkan pada proses pengkajian jati diri secara sistemik. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan sebagai implikasi dari luasnya bidang kajian Teknologi Pembelajaran itu sendiri yang terdiri dari 5 kawasan yaitu kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. Namun luas dan beragamnya kawasan ini bukan berarti Teknologi Pembelajaran sebagai sebuah bidang kajian tidak memiliki skala prioritas yang jelas dalam kajiannya, namun sebaliknya hal ini menunjukkan bahwa Teknologi Pembelajaran merupakan disiplin ilmu sekaligus bidang profesi yang dinamis yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu lain seperti komunikasi, belajar dan teknologi.
Meski demikian, selama lebih kurang 45 tahun sejak kemunculannya pertama dengan istilah Komunikasi Audio Visual sampai saat ini yang melandaskan pada konsep Teknologi Pembelajaran sesuai dengan devinisi AECT 1994, TP sebagai bidang kajian dan sekaligus sebagai bidang profesi tidak lepas dari “discoursus” baik ditingkat aplikasi maupun pada tingkat wacana. Ditingkat aplikasi misalnya terjadinya tarikan kepentingan mengenai lahan kerjaan para sarjana TP dengan sarjana lain untuk membina salah satu mata pelajaran yang sedang trend saat ini yaitu TIK, meskipun tarikan-tarikan tersebut kemudian terselesaikan melalui pendekatan birokratik sesuai dengan peraturan yang ada. Sementara ditingkat wacana, “discoursus” itu terjadi begitu dinamis baik melalui simposium, seminar dan bahkan dalam sekat-sekat ruang kuliah mahasiswa TP itu sendiri. Untuk keperluan itulah, penulis merasa terpanggil untuk menguraikan beberapa istilah yang memiliki hubungan dengan Teknologi Pembelajaran. Hal ini penulis lakukan hanya untuk meberikan kerangka awal bagi berbagai komponen yang memang konsen pada pengkajian Teknologi Pembelajaran kearah yang lebih baik.
Dengan beberapa definisi yang tersaji dalam tulisan ini selanjutnya, penulis harapkan ppembaca dapat mengembangkan devinisi-devinisi tersebut secara mendalam melalui kajian-kajian terhadap literatur yang terkait dengan hal tersebut. Disamping itu, harapan penulis lewat tulisan ini juga akan dapat terbangun persamaan persepsi dalam mengembangkan Teknologi Pembelajaran baik sebagai disiplin kajian maupun sebagai bidang profesi pada masa-masa yang akan datang.

Definisi-defini Istilah
1. Pembelajaran (instruksional) adalah suatu kegiatan dimana seseorang sengaja diubah dan dikontrol, dengan maksud agar ia dapat bertingkah laku atau bereaksi terhadap kondisi tertentu. Berangkat dari pengertian ini, maka pembelajaran merupakan salah satu bagian dari keseluruhan kegiatan belajar mengajar (Merril, 1971 :10).

2. Pengembangan sistem intruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pembelajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitasnya dan praktis bisa dilaksanakan (Ely, 1979 : 4).

3. Sistem Intruksional adalah semua materi pelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan senyatanya (Baker, 1971 : 16). Dalam definisi ini terlihat bahwa sistem instruksional sekurang-kurangnya memiliki dua dimensi yaitu dimensi planning (perencanaan) dan dimensi proses yang nyata (a reality).

4. Perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan, di dalamnya mencakup elemen-elemen :
a. Mengidentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan
b. Menentukan kebutuhan-kebutuhan yang perlu diprioritaskan
c. Spesifikasi rincian hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang diprioritaskan
d. Identifikasi persyaratan untuk mencapai tiap-tiap pilihan
e. Identifikasi strategi alternatif yang mungkin dan alat atau tools untuk melengkapi tiap persyaratan dalam mencapai tiap kebutuhan, termasuk didalamnya merinci keuntungan dan kerugian tiap strategi dan alat yang dipakai (Roger A. Kaufman, 1972 “Educational System Planning” New Jersey Prentice Hall : 6-8).

5. Desain intruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan tekhnik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar (Briggs, 1979 : 20).

6. Desain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan intruksional. Semua konsep sistem ini (tujuan, materi, metode, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lai dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut lebih dahulu diuji coba efektifitasnya sebelum disebarluaskan penggunaannya (Briggs, 1979 : XXI).

7. Model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi (Briggs, 1978 : 23). Model juga diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam melakukan suatu kegiatan (Harjanto, 2008 : 55).

8. Sistem adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian—bagiannya yang saling bekerja bersama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan atas kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap sistem pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari komponen-komponen adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tujuan tersebut (harjanto, 2008 : 47). Pengertian senada juga diungkapkan oleh Wong dan Roulerson (1973 : 9) yang menyatakan bahwa sistem merupapakan “a set of parts united by some form of interaction” (sistem : suatu perangkat dari bagian-bagian yang disatukan oleh beberapa bentuk hubungan saling mempengaruhi). Sementara itu, menurut Hoban (1960) dalam AECT, sistem merupakan rangkaian-rangkaian yang memilki tujuan tujuan yang sama. Arti penting dari sistem adalah pengertian adanya a.) Komponen- komponen dalam sistem b.) Integrasi komponen-komponen itu, dan c.) Peningkatan efisiensi sistem.
9. Pengembangan sistem intruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya (Carrey 1977 : 6)

10. Belajar
Menurut pandangan BF Skiner
Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat belajar maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar, maka responnya menurun. Jadi belajar adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat adanya hubungan antara Stimulus dan Respon (S-R).
Gagne (1970)
Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingata mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi. Berangkat dari pengertian ini, maka menurut Gagne ada tiga tahap dalam belajar yaitu (a) persiapan untuk belajar dengan melakukan tindakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapatkan kembali informasi, (b) pemerolehan dan unjuk perbuatan digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali, respon dan penguatan dan (3) alih belajar yaitu pengisyaratan untuk membangkitkan dan memberlakukan secara umum (Dimyati dan Mudijono, 1999 : 12)

11. Pembelajaran
Pembelajaran ialah kegiatan membelajarkan siswa menggunakan azas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik sedangkan belajar dialakukan oleh peserta didik atau murid (Syaiful Sagala, 2008 : 61). Sedangkan menurut Corey (1986 : 195) menyatakan bahwa pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan sub set khusus dari pendidikan. Sedangkan mengajar menurut Wiliam H. Burton adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan dan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Dalam UUSPN No 20 Tahun 2003 ditegaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Dalam konteks yang lebih luas, pembelajaran diartikan sebagai setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru (Syaiful Sagala, 2008 : 61).

12. Pengajaran VS Pendidikan/Mengajar Vs Mendidik
Sekolah “mengajar atau mendidik”, demikianlah judul buku yang ditulis oleh J.I.G.M. Drost, S.J. Dalam buku tersebut penulis tidak terlalu mempersoalkan penggunaan kedua istilah tersebut dalam praktek pendidikan formal. Demikianpun tidak ditemukan tentang pengertian “mengajar dan mendidik. Tetapi dalam buku lain yang dikarang oleh Prof. Umar Tirtarahardja (2005: 73-74) dengan judul Pengantar Pendidikan diuraikan dengan jelas tentang perbedaan pengajaran dan pendidikan. Namun, pembedaan dilakukan dengan maksud untuk keperluan analisis agar masing-masing segi dapat dipahami. Sebab antara pengajaran dan pendidikan merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Berikut uraiannya :
Istilah pengajaran dapat dibedakan dari pendidikan, tetapi sulit untuk dipisahkan. Jika dikatakan “anak diajar menulis yang baik” lebih terasa sebagai pengajaran. Tetapi jika “anak dikembangkan kegemarannya untuk menulis yang baik” maka lebih mirip pendidikan. Demikianpun pula jika dikatakan “guru mengajar murid menyusun jadwal belajar untuk belajar dirumah”, ini lebih cenderung dianggap sebagai kegiatan mengajar”. Tetapi jika orang tua membiasakan anaknya mematuhi jadwal belajar dirumah tersebut maka orang tua tersebut dianggap mendidik anaknya; dalam hal ini mendidik kedisiplinan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengajaran lebih menekankan pada aspek “penguasaan pengetahuan” sedangkan pendidikan lebih ditekankan pada “penanaman dan pembentukan sikap”. Disamping itu, segi-segi lain yang membedakan antara pengajaran dan pendidikan yaitu dari segi waktu dan metodenya. Pengajaran membutuhkan waktu yang relatif pendek dengan metode yang lebih bersifat rasional, teknis praktis. Sedangkan pendidikan membutuhkan waktu relatif panjang dengan metode yang lebih bersifat psikologis dan pendekatan manusiawi.

13. Komunikasi Audio Visual (Devinisi AECT 1963)
Komunikasi audio visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar, mencakup kegiatan (a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan dalam proses belajar, (b) penstrukturan oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan meliputi : perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen, dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran.

14. Teknologi Pendidikan (Devinisi AECT 1977)
Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia.

15. Teknologi Pembelajaran (Devinisi AECT 1994)
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolalaan serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.

16. Teknologi dalam pendidikan (AECT, 1986)
Teknologi dalam pendidikan adalah penerapan teknologi terhadap berbagai proses yang berkenaan dengan bekerjanya lembaga yang bergerak dalam usaha pendidikan (AECT, 1986 : 2). Teknologi yang dimaksudkan disini pada prinsipnya adalah aplikasi penggunaan pengetahuan ilmiah baik menggunakan alat atau pemikiran secara sistematis untuk mempermudah (mempercepat) pencapaian soluasi dan tujuan yang telah ditetapkan. Jadi teknologi dalam pendidikan titik tekannya adalah pada proses pengoperasian dan penunjang kelembagaan dimana pendidikan berlangsung baik dalam bentuk alat maupun pemikiran atau pengetahuan ilmiah secara sistematis.
Contoh :
– Pemanfaatan TV Edukasi
– Pengembangan MBS dalam mengendalikan mutu pendidikan berbasis sekolah
– Optimalisasi peran komite dalam meningkatkan mutu pendidikan berbasis masyarakat.
– Pembentukan jaring pendidikan nasional berbasis WEB. Misal saat ini sudah ada “Pendidikan Network.com” yang menyediakan data tentang pendidikan di Indonesia.

17. Teknologi untuk pendidikan
Teknologi jika diterapkan ke pendidikan, teknologi merupakan proses yang kompleks lagi terpadu untuk menganalisis masalah, dan mencari jalan pemecahannya, mengimplimentasikan, mengelola dan mengontrol dan mengevaluasi pemecahan terhadap masalah-masalah tersebut (AECT, 1986 : 70)

DAFTAR PUSTAKA

AECT, 1986, ”Devinisi Teknologi Pendidikan”, Jakarta : Rajawali.
Baker, Robert L & Richard R Schutz, 1971,”Instructional Product Development”, New York : Van Nostrand Reinhold Company.
Briggs, Leslie, J. 1979,”Instruksional Design : Prinsiples and Aplication”, Educational Technology Publicatios : Englewood Cliffs, N.J.
Dick, Walter & Carey, Lou. 1937,”The Systematic design of Intrustion”, Boston : Library of Congress Cataloging-in-Publication Data.
Dimyati & Mudijono, 1999,”Belajar dan Pembelajaran”, Jakarta : Rineja Cipta
Ely, Donal P. 1978,,”Instruksional Design & Development”, New York : Syracuse University Publ.
Harjanto, 2008,”Perencanaan Pengajaran”, Jakarta : Rineka Cipta
Sagala, Syaiful, 2008,”Konsep dan Makna Pembelajaran” Bandung : Alfabeta.
Tirtarahardja, Umar, 2005,”Pengantar Pendidikan”, Jakarta : Rineka Cipta.





ETIKA DALAM PENELITIAN

3 01 2010

Etika Dalam Penelitian
Oleh : Taman Firdaus

Pengantar
Mendengar kata penelitian, mungkin pertanyaan awal yang ada dalam benak kita dan setiap orang yang merasa terusik dengan istilah “penelitian” adalah mengapa orang melakukan penelitian ? pertanyaan sederhana dan mendasar ini pada dasarnya tidak lepas dari sifat dasar manusia yang serba ingin tahu terhadap sesuatu yang mengusiknya. Disamping itu, minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian menurut Sukmadinata (2008 : 2) yaitu Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan mneimbulkan keraguan dan pertanyaan bagi dirinya. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam.
Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya.
Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Berangkat dari landasan berpikir di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya orang melakukan kegiatan penelitian tiada lain disamping untuk memenuhi rasa ingin tahu terhadap sebuah gejala atau peristiwa juga untuk memecahkan masalah secara ilmiah dan dapat diterima dengan logika kemanusiaan. Dari hasil penelitian itu pula maka manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Untuk itulah, dalam kerangka menjaga kemurnian hasil penelitian yang dilakukan serta untuk menjaga timbulnya berbagai persoalan dari hasil penelitian yang dilakukan maka persoalan etika menjadi sebuah keniscayaan yang harus diperhatikan dalam penelitian. Etika yang dimaksud, baik berupa etika sosial maupun etika ilmiah yang berkaitan langsung dengan aspek penelitian.

Makna Etika
Istilah etika sering disamakan dengan moral. Etika berasal dari bahasa yunani “ethos, ethikos”. Dalam bahasa latin istilah “ethos, ethikos” disebut “mos” atau moralitas. Baik ethos maupun moral artinya : adat istiadat, kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia kedua-duanya diterjemahkan dengan kesusilaan (Frans von Magnis, 1975). Tetapi antara kedua istilah tersebut terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut menurut J. Verkuyl (1979 : 15) yaitu “dalam pemakaian di kalangan ilmu pengetahuan kata etika itu telah mendapat arti yang lebih dalam dari pada kata moral. Kata moral telah mendangkal artinya. Kadang-kadang “moral” dan “mos” atau “mores” hanya kelakuan lahir saja, tetapi senantiasa menyinggung juga kaidah dan motif-motif perbuatan seseorang yang lebih dalam. Dari beberapa penulis filsafat mengatakan bahwa atika adalah “filsafat moral”.
Istilah moral biasanya dipergunakan untuk memberikan penilaian atau predikat terhadap tingkah laku manusia. Karena itu, untuk memahami pengertian moral sangat erat hubungannya dengan etika. Etika adalah suatu ilmu cabang filsafat yang objek kajiannya adalah tingkah laku manusia ditinjau dari nilai baik atau buruknya.
Berkenaan dengan hal diatas, dalam ranah kegiatan penelitian “etika” dijadikan ukuran kepatutan tentang boleh atau tidaknya, baik atau buruknya sebuah aspek-aspek tertentu dalam kegiatan penelitian. Hal ini diperlukan karena bagaimanapun juga esensi penelitian adalah untuk mencari kebenaran dari sebuah gejala yang muncul. Kebenaran yang dihasilkan dalam sebuah penelitian adalah kebenaran empirik dan kebenaran logis. Ford dalam Lincoln dan Guba (1985 : 14) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kebenaran empirik yaitu apabila konsisten dengan alam, dalam bentuk menerima atau menolak hipotesis atau prediksi. Sedangkan kebenaran logis yaitu apabila hipotesis atau prediksi konsisten atau sesuai secara logis dengan hipotesis atau prediksi terdahulu yang sudah dinyatakan benar. Untuk itu, dalam rangka melahirkan sebuah kebenaran empirik dan logis sebagai hasil penelitian yang sitematis dan logis pula maka dibutuhkan etika sebagai piranti sekaligus rambu bagi peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian. Berikut etika penelitian yang dimaksud :
1. Penelitian sebagai Pencarian Ilmiah yang berpola
Tujuan akhir dari suatu penelitian adalah mengembangkan dan menguji teori. Oleh karena itu, penelitian harus dilandaskan pada teori-teori yang relevan dengan masalah penelitan yang diangkat. McMilan dan Schumacher mengutip pendapat Walberg (1986), mengatakan bahwa ada lima langkah pengembangan pengetahuan melalui penelitian, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah penelitian, (2) melakukan studi empiris, (3) melakukan replikasi atau pengulangan, (4) menyatukan (sistesis) dan mereviu, (5) menggunakan dan mengevaluasi oleh pelaksana.
Suatu teori dapat menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena alamiah. Dari perilaku atau kegiatan-kegiatan terlepas yang dilakukan oleh siswa atau guru umpamanya, peneliti dapat memberikan penjelasan umum tentang hubungan diantara perilaku atau kegiatan pembelajaran. Dari penjelasan-penjelasan umum tersebut terbentuk prinsip-prinsip dasar, dalil konstruk, proposisi yang kesemuanya akan membentuk teori. Mengenai teori ini, lebih jauh Fred N Kerlinger (1986) mengemukakan bahwa “…. a theory as a set of interrelated constructs and proposition that specify relations among variables to explain and predict phenomena”. Dalam rumusan Kerlinger tersebut ada tiga hal penting dalam suatu teori yaitu: (1) suatu teori dibangun oleh seperangkat proposisi dan kontruk, (2) teori menegaskan hubungan di antara sejumlah variabel, (3) teori menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena.
Pencarian Ilmiah
Pencarian ilmiah (scintific inquiry) adalah suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan dengan menggunakan metode-metode yang diorganisasikan secara sistematis, dalam mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data. Pengertian ilmiah berbeda dengan ilmu. Ilmu merupakan struktur atau batang tubuh pengetahuan yang telah tersusun, sedang ilmiah adalah cara mengembangkan pengetahuan.
Metode ilmiah merupakan suatu cara pengkajian yang berisi proses dengan langkah-langkah tertentu. MicMilan dan Schumacher (2001) membaginya atas empat langkah yaitu: (1) define a problem, (2) state the hypotthesis to be tested, (3) colect and analyze data, and (4) interprete the results and draw conclusions obout the problem. Hampir sama dengan McMilan dan Schumacher, John Dewey membagi langkah-langkah pencarian ilmiah yang disebutnya sebagai “reflective thinking”, atas lima langkah yaitu: (1) mengedentifkasi masalah, (2) merumuskan dan membatasi masalah, (3) menyusun hiotesis, (4) mengumpulkan dan menganalisis data, (5) menguji hipotesis dan menarik kesimpulan.

Pencarian Berpola
Pencarian berpola (disiplined inquiry), merupakan suatu prosedur pencarian dan pelaporan dengan menggunakan cara-cara dan sistemtika tertentu, disertai penjelasan dan alasan yang kuat. Pencarian berpola bukan merupakan suatu pencarian yang bersifat sempit dan mekanistis, tetapi mengikuti prosedur formal yang telah standar. Prosedur pencarian ini pada tahap awalnya bersifat spekulatif, mencoba menggabungkan de-ide dan metode-metode, kemudian menuangkan ide-ide dan metode tersebut dalam suatu prosedur yang baku. Laporan dari pencarian berpola berisi perpaduan antara argumen-argumen yang didukung oleh data dengan proses nalar, yang disusun dan dipadatkan menghasilkan kesimpulan berbobot.
Pencarian berpola terutama dalam ilmu sosial termasuk pendidikan, bukan hanya menunjukkan pengkajian yang sistematik, tetapi juga pengkajian yang sesuai dengan disiplin ilmunya.

2. Objektivitas
Penelitian harus memiliki objektiviatas (objektivity) baik dalam karakteristik maupun prosedurnya. Objektivitas dicapai melalui keterbukaan, terhindar dari bias dan subjektivitas. Dalam prosedurnya, penelitian menggunakan tekhnik pengumpulan dan analisis data yang memungkinkan dibuat interpretasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Objetivitas juga menunjukkan kualitas data yang dihasilkan dari prosedur yang digunakan yang dikontrol dari bias dan subjektivitas.

3. Ketepatan
Penelitian juga harus memiliki tingkat ketepatan (precision), secara tekhnis instrumen pengumpulan datanya harus memimiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, desain penelitian, pengambilan sampel dan tekhnik analisis datanya tepat. Dalam penelitian kuantitatif, hasilnya dapat dilang dan diperluas, dalam penelitian kualitatif memiliki sifat reflektif dan tingkat komparasi yang konstan.

4. Verifikasi
Penelitian dapat diverifikasi, dalam arti dapat dikonfirmasikan, direvisi dan diulang dengn cara yang sama atau berbeda. Verifikasi dalam penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif. Penelitian kualitatif memberikan interpretasi deskriptif, verifikasi berupa perluasan, pengembangan tetapi bukan pengulangan.

5. Empiris
Penelitian ditandai oleh sikap dan dan pendekatan empiris yang kuat. Secara umum empiris berarti berdasarkan pengalaman praktis. Dalam penelitian empiris kesimpulan didasarkan atas kenyataan-kenyataan yang diperoleh dengan menggunakan metode penelitian yang sistematik, bukan berdasarkan pendapat atau kekuasaan. Sikap empiris umumnya menuntut penghilangan pengalaman dan sikap pribadi. Kritis dalam penelitian berarti membuat interpretasi berdasarkan kenyataan dan nalar yang didasarkan atas kenyataan-kenyataan (evidensi). Evidensi adalah data yang diperoleh dari penelitian, berdasarkan hasil analisis data tersebut interpretasi dibuat.

6. Penjelasan Ringkas
Penelitian mencoba memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena dan menyederhanakannya menjadi penjelasan yang ringkas. Tujuan akhir dari sebuah penelitian adalah mereduksi realita yang kompleks kedalam penjelasan yang singkat. Dalam penelitian kuantitatif penjelasan singkat tersebut berbentuk generalisasi, tetapi dalam penelitian kualitatif berbentuk deskriptif tentang hal-hal yang esensial atau pokok.

7. Penalaran Logis
Semua kegiatan penelitian menuntut penalaran logis. Penalaran merupakan proses berpikir, menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif atau induktif. Penalaran deduktif, penarikan kesimpulan dari umum ke khusus. Dalam penalaran deduktif, bila premisnya benar maka kesimpulannya otomatis benar. Logika deduktif dapat mengidenfikasi hubungan—hubungan baru dalam pengetahuan yang ada. Dalam penalaran induktif. Peneliti menarik kesimpulan berdasarkan hasil sejumlah pengamatan kasus-kasus (individual, situasi, peristiwa), kemudian peneliti membuat kesimpulan yang bersifat umum.

8. Kesimpulan Kondisional
Kesimpulan hasil penelitian tidak bersifat absolut. Penelitian perilaku dan juga ilmu kealaman, tidak menghasilkan kepastian, sekalipun kepastian relatif. Semua yang dihasilkan adalah pengetahuan probabilistik. Penelitian boleh dikatakan hanya mereduksi ketidaktentuan. Oleh karena demikian, baik kesimpulan kualitatif maupun kuantitatif, bersifat kondisional. Para peneliti seringkali menekankan/menuliskan bahwa hasil penelitiannya “cenderung menunjukkan atau memberikan kecenderungan”.
Pada bagian lain, berkenaan dengan etika sosial, Kemmis dan Taggart dalam Hopkins(1993 : 221-223) menjelaskan bahwa terdapat beberapa etika/pedoman yang harus ditaati sebelum, selama dan sesudah penelitian dilakukan sebagai berikut :
1. Meminta kepada orang-orang, panitia, atau yang berwenang persetujuan dan ijin.
2. Ajaklah kawan-kawan sejawat terlibat dan berpartisipasi dalam penelitian.
3. Terhadap yang tidak langsung terlibat, perhatikan pendapat mereka.
4. Penelitian berlangsung terbuka dan transparan, saran-saran diperhatikan, dan kawan sejawat dperbolehkan mengajukan protes.
5. Meminta iizin eksplisit, untuk mengobservasi dan mencatat kegiatan mitra peneliti, tidak termasuk izin dari siswa apabila penelitian bertujuan meningkatkan pembelajaran.
6. Minta izin untuk membuka dan mempelajari catatan resmi, surat menyurat dan dokumen. Membuat fotokopi hanya diperkenankan apabila di ijinkan.
7. Catatan dan deskripsi kegiatan hendaknya relevan, akurat dan adil.
8. Wawancara, pertemuan atau tukar pendapat tertulis hendaknya memperhatikan pandangan lain, relevan, akurat dan adil.
9. Rujukan langsung, rujukan observasi, rekaman, keputusan, kesimpulan, atau rekomendasi hendaknya mendapat izin atau otorisasi kutipan.
10. Laporan disusun untuk kepentingan yang berbeda, seperti laporan verbal pada pertemuan staf jurusan, tertulis untuk jurnal, surat kabar, orang tua murid dan lain-lain.
11. Tanggung jawab untuk hal-hal atau pribadi-pribadi yang sifatnya konfidensial.
12. Semua mitra penelitian mengetahui dan menyetujui prinsip-prinsip kerja di atas, sebelum penelitian berlangsung.
13. Hak melaporkan kegiatan dan hasil penelitian, apabila sudah disetujui oleh para mitra peneliti, dan laporan tidak bersifat melecehkan siapapun yang terlibat, maka laporan tidak boleh diveto atau dilarang karena alasan kerahasiaan.

Penutup
Dari penjelasan panjang yang penulis sajikan dalam resume ini, akhirnya dapat disimpulkan bahwa etika dalam penelitian merupakan sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai piranti sekaligus pedoman untuk menghindari kegagalan dalam penelitian. Etika yang dimaksud baik yang berkenaan dengan etika ilmiah maupun etika sosial. Mengedepankan etika sebagai sumber kepatutan dalam penelitian tidak lepas dari esensi kegiatan penelitian itu sendiri yaitu untuk menemukan kebenaran dan kemudian mengkontruks kebenaran itu menjadi sebuah teori. Jadi, kebenaran tercapai setelah persetujuan melalui diskusi kritis (Skiner, 1985 : 128-131). Diskusi yang dimaksud dalam konteks penelitian adalah memenuhi kaidah-kaidah etika yang ada dan menjadi kesepakatan tidak tertulis guna memperoleh kebenaran yang bersifat probabilistik.

BAHAN BACAAN

Gall, Meredith D, Gall, Joyce P and Borg, Walter R. 2003 “Educational Research” Boston : Allyn & Bacon.

Hopkins, David. 1993 ”A Teacher’s Guide Classroom Research” . Philadelphia : Open University Press.

Lincoln.I.S & Guba, E.G. 1985, “Naturalistic Inquiry” Baverly Hills, London : Sage Publications

Magnis, Frans von. 1975, “Etika Umum” Jogjakarta : Yayasan Kanisius.

McMillan, J.H. & Schumacher, Sally. 2001, “Research in Education” New York : Longman.

Sukmadinata, 2008, “Metode Penelitian Pendidikan” Bandung : Remaja Rosdakarya.

Verkuyl, J. 1979, “Etika” Jakarta : Gunung Mulia.





LANDASAN DAN PEMIKIRAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

2 01 2010

Landasan dan Pemikiran Teknologi Pembelajaran
Oleh : Taman Firdaus

1. Landasan Filsafat dan Landasan Teoritik
A. Landasan Filsafat
Berdasarkan tinjauan filsafat ilmu, setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang didukungnya, termasuk Teknologi Pembelajaran sebagai disiplin ilmu. Ketiga tiang penyangga dimaksud yaitu landasan ontologi (apa), landasan epitimologi (bagaimana) dan landasan aksiologi (siapa). Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut. Epistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka yang menjadi ruang lingkup objek penelaahan (azas ontologi) teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu adalah masalah “BELAJAR” pada manusia, karena : belajar merupakan hak semua orang dan berlangsung sepanjang hayat, mengenai apa, dari siapa, bagaimana saja belajar tersebut. Akan tetapi kesempatan belajar yang ada masih terbatas, sumber tradisional juga semakin terbatas, serta sumber yang ada dan potensial belum didayagunakan. Oleh karena itu, perlu adanya usaha khusus untuk mewujudkan kesempatan belajar dengan mengoptimalkan sumber dan potensial yang ada, perlu adanya pengelolaan yang inovatif, dan reformatif tentang belajar pada manusia. Alasan lain, kenapa masalah belajar menjadi objek formal kajian (azas ontologi) teknologi pembelajaran adalah tidak lepas dari pemikiran tentang pendidikan itu sendiri. Dimana, agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapi pada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Sedangkan Dasar epistemologis dari teknologi pembelajaran adalah berangkat dari sebuah konsesi dasar filsafati bahwa dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Demikianpun dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian (bidang ilmu). Dalam kaitan dengan ini, pendekatan dalam menyusun dan membangun pengetahuan (azas pistemologis) yang dikembangkan dalam teknologi pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut: (1) keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah; (2) unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinali dan dikelola sebagai suatu kesatuan dan ditujukan untuk memecahkan masalah; (3) penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. Kemudian, azas aksiologi teknologi pembelajaran di sini berkenaan dengan kegunaan dan pemanfaatan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang meliputi 5 kawasan teknologi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, berikut kegunaan potensial teknologi pembelajaran: (1) meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan memperlaju penahapan belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belaar anak; (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya; (3) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistemik, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi dengan penelitian tentang perilaku; (4) lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih kongkrit; (5) memungkinkan belajar secara lebih akrab karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah, memberikan pengetahuan tangan pertama; (6) memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas, penyajian informasi menembus batas geografi. Disamping itu, manfaat lain yang dapat diambil dengan adanya bidang teknologi pembelajaran ialah antara lain: Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan), penyempurnaan system pendidikan, meluas dan meratanya kesempatan serta akses pendidikan, penyesuaian dengan kondisi pembelajaran, penyelarasan dengan perkembangan lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.

B. Landasan Teoritis
Landasan Teori dari Ilmu Perilaku
Lumsdaine menyatakan bahwa teori belajar behavioristik memiliki andil besar dalam perkembangan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknolgi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistemik guna keperluan pembelajaran. Selanjutnya, Saetler melalui stdi penelusurannya terhadap sejarah perkembangan teknologi pembelajaran kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa pemikiran Thorndike dengan teori psikologi perkembangannya yang beraliran behavioristik merupakan landasan pertama kearah teknologi pembelajaran. Tiga hukum utama yang diajukan oleh thorndike yaitu: (1). Law of exercise (hukum latihan). Prinsip yang melekat pada hukum ini yaitu bahwa makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan. Terkait dengan hukum ini, Thorndike memperkenalkan dua prinsip yaitu prinsip law of use dan prinsip law of disuse. Law of use atau hukum penggunaan ialah koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai. Dengan kata lain, melatih koneksi (hubungan) antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons akan memperkuat koneksi diantara keduanya. Sementara Law of disuse atau hukum ketidakgunaan ialah koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan, atau jika ikatan neural tidak dipakai; (2) Law of Effect (hukum efek). Prinsip mendasar dari hukum effek ini adalah bahwa suatu respon akan semakin diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang; (3) Law of Readiness (hukum kesiapan). Hukum kesiapan ini dikemukakan oleh Thorndike dalam bukunya yang berjudul The Original Nature of Man, (Thorndike 1913a,p.125), dapat dijelaskan disini antara lain adalah; (1) apabila suatu konduksi siap menyalurkan (to conduct), maka penyaluran dengannya akan memuaskan, (2) apabila suatu konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan, (3) apabila suatu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan. Selanjutnya, pemikiran inilah yang menjadi landasan awal perkembangan teknologi pembelajaran. Disamping itu, rumusannya tentang prinsip-prinsip aktivitas diri, minat/motivasi, kesiapan mental, individualisasi dan sosialisasi pada fase berikutnya “menurut Saettler” menjadi entri point dalam perkembangan teknologi pembelajaran selanjutnya. Untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun tetap dengan memperhatikan minat dan respons anak terhadap stimulus yang diberikan. Stimulus yang diberikan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak serta perbedaan karakteristik masing-masing individu. Oleh karena itu situasi dan lingkungan belajar perlu dirancang sedemikian rupa serta dalam praksis pembelajarannya sedapat mungkin menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru. Kemudian, teori berikutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori penguatan (reinforcement) yang dikemukakan oleh Skiner. Skiner menyaatakan bahwa belajar dengan memperoleh jawaban yang tepat menjadi suatu hal yang tidak penting dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa fokus nyata pada pendidikan haruslah pada pemberian penguatan yang konsisten, segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkannya. Lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa dari hasil-hasil percobaannya menunjukkan bahwa siswa akan lebih mudah menjawabnya apabila dilengkapi dengan suatu pengalaman belajar. Pelajaran diawali dengan tugas-tugas yang relatif mudah dan sudah dikenal kemudian meningkat secara perlahan-lahan melalui tugas-tugas dan bahan baru. Berangkat dari pandangannya inilah kemudian Skiner mengembangkan Mesin Pengajaran yang disebut dengan Theaching Machine sebagai media untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Prinsip kerja mesin ini, yaitu jika jawaban siswa salah maka mesin tidak akan memberikan reaksi namun sebaliknya jika jawaban siswa benar mesin akan memberikan reaksi dalam bentuk menghadirkan pertanyaan baru. Reaksi pemberian pertanyaan baru ini lah yang kemudian disebut dengan proses reinforcement. Dalam kaitannya dengan penguatan ini, Skiner mengemukakan tiga variabel penting yaitu: (1) peristiwa dimana perilaku berlangsung; (2) perilaku itu sendiri; (3) akibat dari perilaku itu. Kalau semula mengajar hanya memperhatikan bagaimana mengatur stimulus atau pesan yang disampaikan kepada siswa, maka dengan pendapat ini yang lebih diperhatikan adalah respons dari siswa serta tanggapan kepada siswa atas responsnya itu. Kemudian beberapa prinsip yang dijabarkan dari teori penguatan ini, diantaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung untuk lebih bertahan; penguatan positif lebih berarti dari yang negatif; penguatan langsung lebih efektif dari penguatan tertunda; penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari pada yang jarang. Berangkat dari paradigma Skiner inilah kemudian menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Teori selanjutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori kurikulum dan pembelajaran. Teori ini mulai muncul pada sekitar akhir tahun 1950-an bersamaan dengan gerakan pembaharuan kurikulum. Pada saat itu dirasakan perlunya landasan yang lebih ilmiah dan sistematik untuk penyusunan kurikulum. Brunner (1966) mengemukakan teori penyusunan dan pelaksanaan kurikulum dengan suatu paradigma di mana suatu tim besar yang terdiri dari ahli bidang studi, guru, dan ahli psikologi mulai menyusun kurikulum yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat buku, media atau bahan lain dan saran kegiatan di kelas. Keseluruhan bahan ini lebih lanjut oleh tim lokal (wilayah) untuk penyempurnaan dan penentuan cara penyajian, yaitu melalui pembelajaran di kelas atau pembelajaran bermedia, yang keduanya saling berkaitan. Bruner, mendasarkan pandangannya ini pada dua premis dasar yaitu; (1) guru kelas tidak mungkin dapat mengikuti perkembangan bidang studi sambil mengajar dengan penuh; dan (2) guru kelas tidak mempunyai keterampilan metodologi yang cukup untuk melaksanakan pendekatan pemecahan masalah. Keterampilan ini akan diperoleh dengan melaksanakan suatu model yang disajikan melalui pembelajaran bermedia.

Landasan Teori dari Ilmu Komunikasi
Sebagaimana telah dipahami bahwa teknologi pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Edgar Dale yang terkenal dengan “kerucut pengalamannya” (cone of exsperience) menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual. Pemikiran Edgar Dale ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dan komunikasi audiovisual. Kerucut pengalaman Edgar Dale dengan rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, dari yang bersifat kongkrit ke yang abstrak telah menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi. Selanjutnya, teori komunikasi lainnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai bidang studi adalah teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver. Teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver bersifat linear dengan arah tertentu dan tetap yaitu dari sumber (komunikator) kepada penerima (komunikan). Satu unsur yang perlu diperhatikan menurut teori ini bahwa dalam proses komunikasi pasti terdapat gangguan (noise), yang senantiasa ada dalam setiap situasi komunikasi. Teori Shannon dan Weaver ini kemudian disempurnakan oleh Schramm dengan menambahkan dua unsur baru yaitu adanya lingkup pengalaman (field of experience) dan umpan balik. Dengan adanya dua unsur baru ini Schramm menekankan pada adanya kesaaan interpretasi akan arti lambang yang dipakai. Kemudian, teori komunikasi berikutnya yang melandasi perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo dan teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid. Teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo membawa implikasi dalam perkembangan teknologi pembelajaran, dimana dimasukkannya orang dan bahan sebagai sumber yang merupakan bagian integral dari teknologi pembelajaran. Isi pesan beserta struktur dan penggarapannya juga merupakan bagian dari teknologi pembelajaran. Segala bentuk pesan (lambang, verbal, taktil, serta ujud nyata) merupakan bagian dari keseluruhan proses komunikasi, dan dengan demikian juga menjadi bagian dari teknologi pembelajaran. Sedangkan dalam teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid mendasarkan pada sebuah prinsip bahwa komunikasi itu berlangsung tanpa awal dan akhir, sepanjang manusia sadar akan diri dan lingkungannya. Proses komunikasi tidak berlangsung antar individu saja melainkan dalam suatu realitas sosial. Pengaruh teori ini dalam pendidikan adalah: (1) pendidikan seumur hidup yang berlangsung sepanjang orang sadar akan diri dan lingkungannya; (2) pendidikan gerak cepat dan tepat yang lebih mengacu pada kemampuan untuk hidup di masyarakat; (3) pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi; (4) pendidikan yang menarik perhatian dengan cara penyajian yang bervariasi dan merangsang sebanyak mungkin indera; (5) pendidikan yang menyebar, baik pelayanannya maupun peranannya; dan (6) pendidikan yang mustari (tepat saat) menyusup tanpa niat sebelumnya, yaitu pada saat ada kekosongan pikiran. Kesemunya itu, merupakan landasan strategis dalam perkembangan teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang kajian. Pada bagian lain, teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang profesi sekaligus sebagai sebuah bidang kajian, tentunya mengalami proses pengkajian jati diri kearah yang lebih baik. Proses ini, tentunya melalui tahapan-tahapan pengkajian yang sistematis dan terencana dengan hasil yang terukur. Proses dimaksud dilakukan melalui kegiatan penelitian untuk menopang perkembangan ke lima kawasan teknologi pembelajaran.

2. Kedudukan penelitian pada domain teknologi pembelajaran.
Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2) yaitu Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pembelajaran baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pembelajaran. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut . Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pembelajaran, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pembelajaran, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya. Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pembelajaran. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

3. Implementasi teori preskriptif dalam pembelajaran
pembelajaran harus dikelola secara kompetitif dan inovatif. Sebab, lewat pembelajaran yang kompetitif, diyakini akan dapat melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan kompetisi pula. Pribadi yang kompetitif disini bukan berarti pribadi yang egoistik (Tilaar, 2000: 15). Pribadi yang kompetitif disini adalah pribadi yang inovatif melalui pembudayaan sikap kerja sama. Dengan kerja sama, dapat dikembangkan kompetisi yang sehat sehingga produk IPTEK yang dihasilkan berkualitas. Pembelajaran harus menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Artinya, pembelajaran memiliki relevansi dengan kehidupan keseharian. Oleh karena itu, materi yang diberikan harus terintegrasi satu sama lain. Contoh, misalnya ketika seorang anak belajar tentang hukum dan demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harusnya disamping dia belajar tentang teori “namun” dia seharusnya mengalami proses hukum dan demokratisasi dalam bentuk miniatur kehidupan yang dilandaskan oleh hukum dan demokrasi di kelas. Hal ini dapat diwujudkan melalui praktek “Role Playing” dan atau “demonstrasi” yang berkaitan dengan isu-isu hukum dan demokrasi. Di sisi lain, anak didik dapat dihadapkan dengan situasi nyata, melalui metode penugasan kepada anak didik untuk mereview proses hukum yang terjadi dilembaga-lembaga hukum yang ada seperti lembaga peradilan dan kepolisian. Dengan proses pembelajaran seperti tersebut, anak didik akan memiliki kekayaan teori dan praktek yang terkait dengan hukum dan demokrasi yang selanjutnya menjadi informasi penting bagi pembentukan pribadi yang sadar hukum dan demokratis. Implikasinya adalah dalam praktek pendidikan lewat praksis pembelajaran dikelas harus dikelola dan diselenggarakan dengan pendekatan pendidikan “andragogy”. Knowlis sebagaimana dikutip oleh Wiliam F. O’neil (2002: xviii) menjelaskan bahwa andragogy atau pendekatan pendidikan orang dewasa merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa. Di balik pengertian ini, Knowles ingin menempatkan murid sebagai subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyipulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai fasilitator dan bukan menggurui. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid bersifat “multicomunication” (Knowles, 1970). Dengan pendekatan ini, maka anak didik deberikan ruang untuk mengkontruk pengetahuan berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Peran guru dalam pembelajaran hanya sebatas menyiapkan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat membelajarkan dirinya dari sumber-sumber belajar yang ada dan media belajar yang disediakan guru.

4. Desain Pembelajaran berdasarkan aspek perkembangan teknologi informasi.
Sebagaimana diketahui bahwa kawasan desain adalah suatu proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Terkait dengan hal ini, maka guru sebagai pengelola pembelajaran pada era teknologi informasi saat sekarang dalam mendesain pembelajaran harus mampu menghadirkan materi dari berbagai sumber informasi yang bervariasi. Langkah ini tentunya dilandasi pada sebuah prisnsip bahwa semakin banyak informasi yang diperoleh siswa tentang sebuah masalah, maka semakin mudah lah bagi siswa untuk memecahkan masalah tersebut Prinsip ini mensyaratkan bahwa belajar adalah suatu proses pengolahan, pemanfaatan dan penggunaan informasi. Dalam konteks ini, maka semakin beragamnya informasi yang diterima oleh siswa dari berbagai sumber belajar tentunya akan semakin memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa itu sendiri tentang suatu objek yang sedang dibahas. Untuk kepentingan itu, maka guru harus mampu memanfaatkan dan mengembangakan berbagai teknologi informasi baik dalam bentuk CD Pemebelajaran maupun lewat WEB pembelajaran yang sedang trend saat ini. Dengan meningkatnya daya muat untuk mengumpulan, menyimpan, memanipulasikan dan meyajikan informasi pada era saat ini maka seyogyanya guru harus mampu mendayagunakan kelebihan tersebut dalam penyampaian materi pembelajaran kepada siswa. Misalnya desain pembelajaran berbasis internet. Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah, internet mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Poin penting lainnya, desain pembelajaran dengan pendekatan teknologi informasi adalah bahwa guru harus mampu mendesain materi sebaik mungkin, materi yang mudah dicerna oleh siswa, materi yang dapat ditangkap oleh berbagai indera yang dimiliki oleh siswa mulai indera pendengaran sampai indera penglihatan, materi yang dianggap penting dan relevan dengan kebutuhan belajar siswa. Dengan cara itu, maka informasi yang diperoleh siswa dalam bentuk materi tersebut akan tersimpan lama dalam long term memory, yang pada gilirannya nanti akan dapat dimanfaatkan oleh siswa secara tekstual.

5. Cara menjembatani perkembangan teknologi informasi yang bergitu cepat yang tidak didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah.
Satu hal yang harus menjadi catatan penting bahwa esensi dari pembelajaran adalah bagaimana terjadinya interaksi komunikatif antara beragai unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran, baik interaksi antara siswa dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru. Lewat interaksi yang terbangun itu kemudian, siswa akan memperoleh berbagai pengalaman belajar yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahamannya terhadap sebuah persoalan atau materi tertentu. Meski trend saat ini, pembelajaran lebih bersifat online namun tidak serta merta trend ini menjadi sesuatu yang harus diterapkan pada seluruh situasi pembelajaran. Sebab, bagaimanapun juga sarana dan prasara menjadi faktor kunci bagi kelancaran kegiatan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang bergitu canggih saat ini. Untuk itu, dalam menjembatani hal ini tiada jalan lain, selain dengan memaksimalkan dan mendayagunakan berbagai sumber belajar yang tersedia disekitar lingkungan peserta didik. Proses memaksimalkan ini dapat dilakukan baik dengan cara memanipulasi atau merekayasa media dan sumber belajar yang tersedia ke arah yang lebih baik dan representatif sehingga kaya akan berbagai informasi yang berimplikasi positif bagi kegiatan pembelajaran. Di samping itu, harus dipahami pula bahwa teknologi informasi baik berupa internet, email dan lain sebagainya hanya merupakan alat dan sarana pendukung kelancaran kegiatan pembelajaran, yang terpenting adalah bagaimana dalam proses pembelajaran terbangun proses yang kompleks dan terpadu. Kompleks dan terpadu disini tentunya terkait dengan pelibatan orang, prosedur, gagasan, peralatan meski seadanya namun telah dimanipulasi sehingga kaya akan informasi-informasi yang relevan dengan kegiatan pembelajaran, dan organisasi dalam menganalisis masalah, mencari jalan pemecahannya, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar siswa. Inilah inti dari teknologi pembelajaran, bukan hanya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk peralatan namun yang lebih penting bagaimana proses tersebut di atas dapat diwujudkan sehingga keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi kendala yang berarti dalam membelajarkan peserta didik.

6. Implementasi aspek budaya dalam pembelajaran di era global yang sarat dengan perkembangan TIK
Dalam era global seperti saat ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, maka proses ini tentunya akan berimplikasi pada pembentukan budaya baru dalam pembelajaran. Kalau selama ini, siswa tidak melek pada perkembangan TIK maka seiring dengan semakin menguatnya arus TIK, anak didik harus dibiasakan untuk bersentuhan dengan berbagai produk teknologi khususnya yang memiliki relevansi dengan kegiatan pembelajaran. Pembudayaan nilai kerjasama menjadi catatan penting dalam penerapan pembelajaran berbasis TIK. Hal ini dapat dilakukan dengan menugaskan kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang terkait dengan materi tertentu dalam pembelajaran, selanjutnya meminta masing-masing siswa untuk memverifikasi dan saling bertukar informasi satu sama lain. Dengan proses tersebut, maka kerjasama antar siswa dapat terbangun dan dikembangkan secara sistematis. Pada bagian lain, pembudayaa budaya saling ketergantungan dan membutuhkan dapat dilakukan dalam pembelajaran berbasis TIK. Siswa akan terhubung dengan berbagai orang di dunia maya misalnya, saling bertukar informasi, berbagi materi dan lain sebagainya. Proses ini kemudian lambat laun akan memunculkan budaya ketergantungan dikalangan siswa dengan berbagai orang yang tergabung dalam dunia maya, pada akhirnya proses ini pula akan memunculkan budaya menghargai dan menghormati sesama bangsa.





Politik Dagang Sapi Buku Gurita Cikeas

31 12 2009

Satu yang menarik yang perlu menjadi catatan buat kita sebagai anak bangsa, “sikap kritis” jangan sampai luntur tergadaikan zaman. Sikap kritis inilah yang membawa saya mencoba membongkar Politik Dagang Sapi di balik penulisan buku “Gurita Cikeas”. Satu sisi, penulis mengatakan bahwa tulisan itu merupakan hasil reseach yang dilakukan dengan cermat. Namun unsur ilmiah tidak saya temukan dari awal penuilisan sampai pada bagian akhir. Justeru yang saya temukan, tulisan tersebut kental dengan agenda dagang sapi. ya sukur, ndak laku ya basi. Penulis juga tidak memberikan ruang kritik bagi kelompok yang kontra terhadap kebenaran isi buku yang ditulisnya. Hal ini tampak pada tragedi kecil ketika louncing buku yang dimaksud di jakarta baru-baru ini. Wah, bagaimana ini…





UJIAN NASIONAL (Dilema atau Solusi)

27 12 2009

UJIAN NASIONAL : DILEMA ATAU SOLUSI
Oleh : Taman Firdaus

Negaramanapun tentunya sangat membutuhkan informasi yang berkenaan dengan sejauh mana sistem yang telah didesain selama ini mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dari informasi yang diperoleh tersebut kemudian dapat dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki kinerja sistem itu sendiri dimasa yang akan datang. Dalam dunia pendidikan, kerangka sederhana inilah yang kira-kira menjadi landasan bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia dalam menyelenggarakan evaluasi sistemik dalam pendidikannya. Sebut saja evaluasi sistemik tersebut saat ini yang lagi trend dan hangat diperdebatkan dinegara kita adalah penyelenggaraan Ujian Nasional.
Ujian Nasional yang sejak awal kemunculannya mendapatkan berbagai reaksi yang beragam dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia, “ada” kelompok yang pro dan tidak sedikit pula kelompok yang “kontra” terhadap kebijkan tersebut. Ujian Nasional ditentang oleh sebagian besar masyarakat disebabkan karena pertama digunakannya standar tunggal untuk dalam mengevaluasi siswa seluruh Indonesia. Masyarakat menilai, azas keadilan dan pemerataan yang menjadi semangat penyelenggaraan sistem pendidikan nasional kita tidak tercermin dalam penyelenggaraan UN, ketika acuan penilaian yang digunakan tidak memperhatikan dinamika dan perbedaan kemampuan ditingkat daerah. Keadaan ini juga “kontraproduktif” dengan semangat kurikulum yang mencoba membangun dan menyemaikan budaya kontruktifistik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kedua, peningkatan ambang batas kelulusan UN setiap tahun belum diimbangi dengan perbaikan infrastruktur pendidikan dan kualitas pembelajaran. Terjadi lompatan logika yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, bagaimana ingin menyamakan evaluasi sementara terdapat disparitas yang menganga berkenaan dengan proses pembelajaran antara jawa dan luar jawa. Diakui atau tidak, jawa lebih unggul dalam hal kecepatan mengekses informasi dibandingkan daerah luar jawa, sebab berbagai fasilitas yang menunjang kearah tersebut telah memadai sedangkan daerah luar jawa masih “jauh panggang dari api”. Kondisi ini setidaknya akan mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran pada tiap sekolah.
Bahkan, semangat “program internet” masuk sekolah baru dicanangkan beberapa waktu yang lalu sebagai bagian dari program seratus hari Departemen Pendidikan Nasional. Sebagai perbandingan dengan program negeri jiran, Kementerian Malaysia telah cukup lama mengembangkan apa yang disebut sebagai sekolah pintar (smart school) sebagai bagian dari proyek raksana yang dikenal dengan Multimedia Super Corridor (MSC). Sejak tahun anggaran 1997, Malaysia telah mengembangkan 31 sekolah menengah sebagai sekolah pintar. Empat mata pelajaran pokok di Malaysia, yaitu (1) Bahasa Malaysia, (2) Bahasa Inggris, (3) Sains, dan (4) Matematik (kita menggunakan istilah Matematika) telah disusun dalam bentuk CD, sehingga proses pembelajarannya menggunakan komputer. Lagi-lagi, fasiltias ruang kelas di sekolah ini tidak lagi ada meja kursi yang diatur berderet-deret seperti kelas model lama, tetapi kelas model baru lengkap dengan komputer untuk setiap siswa. Kalau demikian, program penyediaan internet secara massal dalam hal ini memang terasa sudah terlambat dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Malaysia. Oleh karena demikian, sepatutnya pemerintah mempertimbangkan faktor ini dalam penyelenggaraan UN.
Katiga, penyusunan butir-butir soal Ujian Nasional dilakukan secara sentralistik. Kondisi ini sangat bertentangan dengan semangat “desentralisasi” dibidang pendidikan yang selama ini telah disemaikan. Implikasinya kemudian, banyak anak yang tidak mampu menjawab soal-soal Ujian Nasional. Hal ini dimungkinkan terjadi karena meski kurikulum sama, namun masing-masing guru sebagai kreator pembelajaran dalam menginterpretasikan kurikulum menjadi lebih operasional tentunya memiliki pemahaman yang berbeda sehingga materi pembelajaranpun bervariasi, “inilah” semangat Desentralisasi Pendidikan”. Disisi lain, fenomena yang tidak kalah risihnya dan memilukan nurani bangsa ini ketika “semangat lulus 100 %” menjadi semacam keharusan telah mengubah wajah pendidikan secara massif. Berbagai cara dihalalkan untuk mencapai target tersebut, tim sukses dibentuk pada tiap sekolah meski tidak formal yang bertugas untuk membagikan ransum (kunci jawaban) pada menit-menit terakhir.
Sementara itu, tidak dapat dipungkiri pula bahwa, disisi lain keberadaan Ujian Nasional juga menjadi semacam shock terapi bagi masyarakat bangsa ini yang terkenal malas dalam membaca. Para orang tua murid yang peduli terhadap peningkatan mutu dan kualitas anak-anaknya tentunya akan mendorong anak-anaknya untuk belajar sejak dini karena mengetahui betapa sulitnya Ujian Nasional yang akan dihadapi oleh sang anak. Inilah yang menjadi argumen, dari kelompok masyarakat yang “pro” terhadap penyelenggaraan UN. Disamping itu, dengan logika untuk mengangkat kualitas anak bangsa secara bersamaan juga menjadi faktor yang mendorong UN untuk terus dipertahankan sebagai indikator kelulusan siswa.
Terlepas dari pro kontra di atas, berangkat dari azas keadilan dan pemerataan pendidikan “penulis” menyarankan untuk mereposisi Ujian Nasional. Artinya, Ujian Nasional tetap boleh diselenggarakan sebagai salah satu instrumen evaluasi secara nasional, namun peruntukannya tidak dijadikan sebagai indikator mutlak kelulusan, melainkan dijadikan sebagai salah satu indikator kelulusan dengan mengembalikan kepada daerah untuk menentukan standar kriteria kelulusannya. Dengan Ujian Nasional model baru ini, penyusunan soal tidak lagi dilakukan secara nasional tetapi dilakukan oleh masing-masing daerah. Untuk kepentingan memantau mutu pendidikan secara nasional, pemerintah pusat tetap memegang peran sebagai pemantau dan pengawas terhadap penyelengaraan UN. Dari hasil Ujian Nasioanal tersebut, kemudian pemerintah pusat dapat mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan aspek-aspek penting yang akan mendukung agenda peningkatan mutu pendidikan nasional secara keseluruhan.
Dengan model ini, Ujian Nasional juga dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu sekolah secara bertahap. Karena itu, sekolah yang belum memenuhi standar pendidikan harus dibantu untuk meningkat. Model baru ini juga dapat mengikis kesan dan citra negatif yang melekat pada guru selama ini, dimana guru dicitrakan sebagai pihak yang tidak dapat dipercaya karena suka memanipulasi nilai siswanya, membocorkan soal dan semata-mata ingin meluluskan siswanya tanpa memperhatikan mutu luaran.
Pada bagian lain, dengan model baru ini, gran desain untuk meningkatkan mutu pendidikan secara sistemik dilakukan secara batton up dengan berpegang pada prinsip desentralisasi yang saling menguntungkan. Jika memang butir-butir penting dalam amar putusan Mahkamah Agung seperti perbaikan sistem pendidikan, peningkatan dan pemerataan kualitas dan kuantitas sarana pendidikan serta peningkatan akses layanan informasi kepada masayarakat pendidikan, telah dilakukan perbaikan secara terencana dan berkesinambungan, maka Ujian Nasional dapat dijadikan sebagai indikator kelulusan dengan standar kriteria kelulusan mutlak seperti saat ini dapat diterapkan kembali. Saya kira, pilihan inilah yang paling logis untuk saat ini, sebab diakui atau tidak kita masih berbenah. Kita tentunya tidak ingin terbang jauh sebelum landasan pacu kita siapkan secara memadai. Mudah-mudahan tawaran di atas akan menjadi inspirasi bagi pengambil kebijakan dalam mere-evaluasi Ujian Nasional serta menjadi landasan konseptual bagi pelaku pendidikan di daerah dalam memberikan masukan dan kritikan terhadap pemerintah pusat berkenaan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional. Wallahualam.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UNY
Program Studi Teknologi Pembelajaran.





Epistemologi (Sebuah Tinjauan dalam Praksis Filsafat)

27 12 2009

Epistemologi (Sebuah Tinjauan dalam Praksis Filsafat)
Oleh : Taman Firdaus

A. Pengantar

Cabang filsafat yang mempelajari hakikat, sumber dan validitas pengetahuan disebut epistemologi. Secara etimologi, istilah epistimologi berasal ari bahasa Yunani episteme artinya pengetahuan dan logos artinya teori (Tim Dosen Filsafat Ilmu FF UGM, 2007 : 32). Sebagai theory of knowledge atau salah satu cabang filsafat, epistimologi mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ‘Apakah yang disebut benar?’ dan ‘Bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu?’ Lantaran fakta bahwa ia membahas isu-isu seperti bisa diandalkannya sebuah pengetahuan dan ketepatan berbagai metode untuk mencapai kebenaran yang pasti, maka epistemologi-bersama-sama metafisika terletak di pusat proses pendidikan.

B. Dimensi-dimensi Pengetahuan
1. Bisakah Realitas Diketahui?
Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak memerlukan hal itu, karena dialah yang menunjukkan apa yang diakui benar dan harus berlaku
(Paul Nartop)
Ungkapan di atas sengaja dikutip untuk menunjukkan bahwa esensi dari perjalanan filsafat pada dasarnya hanya untuk mencari kebenaran, sebuah usaha yang selalu membawa klaim-klaim dari pembawanya untuk menjadi valid dan dipakai setiap zaman. Namun demikian, hal itu tentu saja melalui berbagai pertarungan yang melampaui dimensi waktu dan tempat serta lokalitas pemikiran para filsuf. Dari pencarian kebenaran tersebut , tentu akan selalu ada mata rantai filsafat yang pada tataran praksisnya menjadi abadi, yaitu bentuk falsifikasi yang terejawantah pada tesis-antitesis, aksi-reaksi dan kontruksi-rekonstruksi atau dekonstruksi. Demikianpun dalam menjawab pertanyaan “Bisakah realitas diketahui” ? Ini adalah sebuah pertanyaan logis yang dengannya pengembaraan epistemologi dimulai karena ia menunjukkan kaitan erat antara epistemologi dan metafisika. Namun, sebelum masuk dalam upaya pencarian kebenaran dibalik pertanyaan itu, terlanjur melembaga sikap skeptisme dalam ruang kesadaran manusia. Skeptisisme di dalam pengertian yang sempit adalah sebuah pandangan yang mengklaim kalau mustahil untuk mencapai pengetahuan dan bahwa penyelidikan terhadap kebenaran sia-sia saja. Pemikiran ini diekspresikan dengan baik oleh Gorgias (483-376 SM), Sofis Yunani yang menegaskan bahwa tidak ada yang eksis, dan bahwa jika ada yang eksis, kita tidak bisa mengetahuinya.
Sebuah skeptisisme ekstrim akan membuat tindakan yang cerdas dan konsisten mustahil dilakukan. Sedangkan skeptisisme dalam pengertian lebih luas seringkali digunakan untuk mengacu kepada sikap mempertanyakan asumsi atau kesimpulan apapun hingga ia bisa tunduk kepada pengujian yang ketat. Sebuah istilah yang relatif dekat kaitannya dengan skeptisisme adalah agnositisisme. Agnostisisme adalah sebuah sikap yang mengabaikan atau menolak, khususnya terkait dengan eksis tidaknya Tuhan, lebih daripada penyangkalan positif pengetahuan apapun yang valid.
Padahal, manusia perlu “ber-Cagito Ergo Sum” dalam hidupnya menurut Rene Descartes. Persetubuhan ungkapan tersebut dengan perjalanan pemikiran para filsuf dari periode awal sampai pada periode kontemporer telah melahirkan berbagai “bayi” yang menjadi kesatria-kesatria perkasa pada jamannya dalam menemukan kebenaran meskipun bersifat hypo knowledge, termasuk dalam menemukan kebenaran dari pertanyaan esensial dalam ranah epistimologi dan metafisika “Bisakah realitas diketahui”. Untuk kepentingan ini, penulis akan menyajikan dua perspektif berbeda tentang realita yang lahir dari para filsuf yunani yaitu Plato dan Aristoteles.
Menurut Plato, realitas yang sesungguhnya adalah sebagaimana yang ada dalam dunia ide. Pernyataan ini berangkat dari penerimaan dia terhadap semesta yang dualistik seperti yang diyakini oleh phithagorean”. Menurutnya, setiap objek di dunia fisik memiliki “ide” atau “bentuk “ abstrak yang menyebabkannya. Misalnya ide abstrak tentang kursi berinteraksi dengan materi untuk menghasilkan sesuatu yang kita namakan kursi. Ide pohon berinteraksi dengan materi untuk membentuk apa yang kita namakan pohon. Semua objek fisik memiliki asal-usul seperti itu. Ide murni atau esensi dari benda-benda ini eksis secara independen dari materi, dan sesuatu akan hilang ketika diterjemahkan kedalam materi. Karenanya, jika kita berusaha mendapatkan pengatahuan dengan memeriksa benda-benda yang kita rasakan dan alami lewat indera, kita akan tersesat. Informasi inderawi hanya menghasikan opini, ide abstrak itu adalah satu-satunya basis dari pengetahuan yang benar.
Tetapi bagaimana kita mendapatkan informasi tentang ide jika kita tidak bisa mengalaminya melalui indera ? Plato mengatakan kita mengalaminya melalui “mata pikiran”. Kita mengarahkan pikiran kedalam dan merenungi apa-apa yang ada dalam diri kita. Semua pikiran manusia mengandung pengetahuan lengkap tentang semua ide yang membentuk dunia. Dalam pandangan yang kompleks ini, terlihat bahwa Plato sedikit mistis. Karena ide itu telah diterima oleh jiwa sebelum dimasukkan ke tubuh pada saat kelahiran. Jadi semua jiwa manusia mengatahui segala sesuatu sebelum masuk ke tubuh. Lebih lanjut Plato menjelaskan, jika manusia menerima apa-apa yang mereka alami lewat indera sebagai kebenaran, mereka hanya sampai pada opini dan ketidak tahuan. Hanya dengan cara mengalihkan perhatian dari dunia fisik yang tak murni kedunia ide, merenunginya dengan mata pikiran (berpikir/bercagito maksudnya), barulah kita bisa berharap mendapatkan kembali pengetahuan sejati kita. Jadi semua pengetahuan adalah reminiscence (kenangan) atau innate ideas (ide bawaan) dari pengalaman jiwa kita saat berada “di langit di atas langit “ (Matthew H. Olson, 2008 : 33).
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam perpektifnya Plato “realitas” dapat diketahui melalui ide dan proses berpikir yang baik (memanfaatkan rasio). Sedangkan menurut Aistoteles “realitas” dapat diketahui melalui pengalaman empiris dan proses berpikir. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa informasi inderawi dan penalaran adalah basis dari semua pengetahuan. Termasuk pengetahuan tentang realitas.

2. Kebenaran, Relatif ataukah Absolut?
Apakah semua kebenaran bisa berubah? Mungkinkah kebenaran hari ini bisa menjadi kekeliruan di hari esok? Kebenaran yang akan menjawab ya kepada pertanyaan pertama disebut bersifat relatif. Kebenaran Absolut mengacu kepada kebenaran yang secara abadi dan universal, benar tak peduli waktu atau tempatnya: Jika terdapat jenis Kebenaran ini di alam semesta, maka tentunya akan banyak membantu kita untuk menemukannya dan menempatkannya di pusat kurikulum sekolah.
Jadi pada dasarnya kebenarannya itu bersifat relatif, meskipun pada ranah tertentu seperti ranah agama “kebenaran” bersifat obsolut. Nietzsche misalnya, memandang kebenaran semacam kesalahan, dimana tanpa kebenaran spesies makhluk hidup tentu tidak dapat hidup, karena kebenaran adalah sesuatu yang tidak bermakna. Kebenaran bagi Nietzsche adalah suatu metafor. Disamping itu, Nietzche juga mengatakan bahwa kebenaran pandang dari sudut perasaan adalah sesuatu yang secara kuat menggugah perasaan (ego), dari sudut pandang pikiran, kebenaran adalah sesuatu yang memberikan pikiran perasaan paling agung akan kekuatan. Sementara dari sudut sentuhan, penglihatan dan pendengaran kebenaran adalah sesuatu yang mengandung resistensi paing besar (Listiyono Santoso, 2006 : 65).
Dari pandangan semacam ini, dapat dipahami bahwa Nietzsche tidak memberi tempat dalam filsafatnya suatu pemikiran obsolutisme dalam pencarian kebenaran. Selain itu, ia juga tidak menerima kebenaran sebagai suatu homologi melainkan sebagai paralogi. Kebenaran itu tidak satu melainkan banyak.
3. Pengetahuan, Subjektif ataukah Objektif?
Pertanyaan ini terkait erat dengan relativitas kebenaran. Van Cleve Morris mencatat kalau ada tiga pandangan dasar mengenai objektivitas pengetahuan. Pertama, beberapa orang yakin kalau pengetahuan adalah sesuatu yang datang kepada kita dari ‘luar’ dan disisipkan ke dalam pikiran dan sistem saraf kita dengan cara yang mirip dengan bijih besi dimuat ke dalam kapal. Kedua, yang lain berpendapat kalau subjek yang mengetahui mengkontribusikan sesuatu di dalam keterlibatan dirinya dengan dunia dengan suatu cara yang sebagian bertanggung jawab bagi struktur pengetahuannya. Ketiga, kita eksis sebagai ‘subjek murni’ yang menjadi pencipta dan pemabrik kebenaran dan bukannya sekedar resipien atau partisipan kebenaran.
Untuk memahami realitas ini, ada baiknya dikemukakan beberapa pemikiran filsafat yang bersifat objektif dan subjektif dari beberapa tokoh filsafat abad pertengahan yaitu Karl Mark dan Hasan Hanafi. Dikalangan filsuf ke dua tokoh tersebut mewakili zamannya dalam pengembangan pengetahuan yang berkenaan dengan kritik terhadap realitas sosial yang dianggap menyimpang dan tidak berkeadilan. Mark dianggap terlalu subjektif ketika menawarkan metode materialisme dialektika yang menjadi salah satu ciri dari faham komunisme. Kelahiran metode materialisme dialektika ini tidak lepas dari situasi subjektif Mark sendiri. George Ritzer dalam bukunya Sosiological Theori (2008 : 50) menyebutkan bahwa Karl Mark lahir di Trier, Prusia pada tanggal 5 Mei 1818. Ayahnya seorang pengacara, memberikan nuansa kelas menengah pada keluarganya. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga rabi, namun karena alasan bisnis ayahnya berganti agama menjadi lutherian ketiak Karl Mark masih sangat muda. Kondisi awal ini yang kemudian berpengaruh kuat terhadap unsur subjektivitas dalam pemikiran mark. Dalam perkembangan selanjutnya, subjektivitas pemikiran mark semakin berkembang ketika Mark memperoleh gelar doktor filsafat pada Universitas Berlin, sekolah yang dipengaruhi oleh pemikiran Hegel.
Sedangkan, Hasan Hanafi dianggap objektif dalam melakukan pembacaan ulang terhadap fenomena masyarakat islam yang terlalu menjadikan barat sebagai model yang obolut. Objektivitas Hhasan Hanafi terletak pada asumsi yang digunakannya yang dilandasakn pada riset bukan dilandaskan pada fakta semata. Hal ini nampak dalam kajian akan hal itu melalui pendekatan oksidentalismenya.

4. Adakah Pengetahuan yang Independen dari Pengalaman Manusia?
Pertanyaan ini adalah dasar bagi epistemologi dan bisa dilihat dengan cara terbaik menurut pengetahuan yang sifatnya aprioris dan aposterioris. Pengetahuan aprioris mengacu kepada kebenaran yang diklaim sejumlah pemikir sebagai kebenaran yang dibangun ke dalam jejaring realitas. Pengetahuan ini independen dari manusia yang mengetahuinya dan benar entah manusia tahu dan menerimanya atau tidak. Jenis kebenaran yang seperti ini disebut-sebut eksis sebelum manusia memiliki pengalaman dan independen dari kesadaran manusia. Contoh tentang pengetahuan aprioris adalah rasio yang eksis di antara keliling dan diameter sebuah lingkaran (π).

C. Sumber-sumber Pengetahuan

1. Indera
Empirisisme adalah pandangan yang menyatakan kalau pengetahuan diperoleh melalui indera, bahwa manusia membentuk gambar dunia di sekitar mereka dengan melihat, mendengar, membaui, menyentuh dan mengecap. Pengetahuan empiris dibangun sebagai hakikat dasar pengalaman manusia. Seseorang bisa saja keluar dari rumah di suatu hari yang cerah dan melihat keindahan pemandangan, mendengar nyanyian seekor burung, merasakan hangatnya sinar matahari, dan membaui harum bunga yang sedang mekar. Dia ‘tahu’ kalau itu musim semi karena pesan-pesan yang diterimanya lewat indera.
Kehadiran data inderawi tidak bisa disangkal. Sebagian besar manusia di abad duapuluh menerimanya sebagai nilai dasar perepresentasian ‘realitas’. Bahaya tersembunyi di dalam penerimaan naif dari pendekatan ini adalah indera-indera kita sudah terbukti tidak lengkap dan tidak bisa diandalkan. Contohnya, kebanyakan orang sudah dikonfrontasikan oleh sensasi dari melihat tongkat yang terlihat bengkok ketika separuhnya dimasukkan ke dalam air, namun terlihat lurus saat ditarik keluar.
Manusia sudah menemukan instrumen-instrumen ilmiah untuk memperluas jangkauan indera ini, namun mustahil untuk memastikan persisnya validitas instrumen-instrumen tersebut karena kita tidak tahu efek total pikiran manusia dalam merekam, menginterpretasikan dan mendistorsi persepsi inderawi. Keyakinan pada instrumen-instrumen ini dibangun di atas teori-teori metafisik spekulatif yang validitasnya diperkuat oleh eksperimentasi yang di dalamnya prediksi-prediksi sudah diverifikasi berdasarkan sebuah konstruk teoritis.
Singkatnya, pengetahuan inderawi dibangun di atas asumsi-asumsi yang harus diterima oleh iman dengan mengandalkan mekanisme-mekanisme inderawi kita sendiri.

2. Pewahyuan
Pengetahuan yang diwahyukan sudah menjadi sangat penting di bidang agama. Ia berbeda dari semua sumber pengetahuan lain lantaran mengasumsikan sebuah realitas supranatural yang transenden menguasai tatanan alamiah. Pewahyuan adalah cara Tuhan berkomunikasi tentang kehendak ilahiah. Kebenaran yang diperoleh melalui sumber ini diyakini bernilai absolut dan tak terkontaminasi oleh kelemahan manusia. Di sisi lain, kebenaran yang tersingkap tersebut bisa saja terdistorsi oleh proses interpretasi manusia itu sendiri sehingga kita bisa melihat setiap agama memiliki mazhab fikir yang berbeda-beda untuk membaca dan memahami kaidah-kaidah tertentu keagamaan mereka.
3. Otoritas
Pengetahuan otoritatif diterima sebagai benar karena datang dari para ahli atau sudah disakralkan di periode waktu tertentu sebagai sebuah tradisi. Otoritas sebagai sumber pengetahuan memiliki kelebihan sekaligus bahaya. Peradaban tentu akan terjebak dalam kondisi stagnasi jika setiap individu tidak bersedia menerima pernyataan apapun melalui pengalaman langsung secara pribadi kecuali sudah diverifikasi oleh otoritas ahli. Padahal banyak revolusi ilmu lahir dari penelitian yang disebut ‘menyimpang’ dari tradisi, tapi justru membuka jalan baru menuju pengetahuan yang lebih baik dan menyeluruh.
4. Rasio
Pandangan bahwa penalaran, berpikir atau logika adalah faktor utama di dalam pengetahuan dikenal sebagai rasionalisme. Para rasionalis, yang menekankan kekuatan berpikir manusia dan kontribusi pikiran bagi pengetahuan, cenderung mengklaim kalau indera saja tidak bisa menyediakan bagi kita penilaian-penilaian yang secara universal valid, apalagi yang konsisten satu sama lain.
Rasionalisme , dalam bentuknya yang kurang begitu ekstrim, mengklaim kalau manusia memiliki kekuatan untuk mengetahui dengan pasti berbagai kebenaran tentang alam semesta yang tidak sanggup disediakan oleh indera saja? Contohnya, jika x sama dengan y dan y sama dengan z, maka x sama dengan z. Memungkinkan bagi kita untuk mengetahui bahwa pernyataan itu benar, terlepas dari contoh atau pengalaman aktual apapun entah diaplikasikan pada kotak, segitiga atau objek lain di alam semesta. Sistem-sistem logika seperti ini memiliki keuntungan dasar berupa memiliki konsistensi internal, namun mereka menghadapi rentan terhadap bahaya tidak berkaitan sama sekali dengan dunia eksternal.
D. Intuisi
Pemahaman langsung terhadap pengetahuan yang tidak dihasilkan dari penalaran sadar atau persepsi indera bermediasi disebut intuisi. Di dalam literatur yang menggunakan intuisi, kita sering menemukan ungkapan seperti “merasakan langsung kepastian” dan “imajinasi yang menyentuh dengan penuh keyakinan”. Intutisi muncul di bawah ‘ambang kesadaran’. Ia sering dialami sebagai ‘kilatan mendadak sebuah pemahaman’.
Kelemahan atau bahaya dari intuisi adalah ia tidak bisa dijadikan sebagai sebuah metode yang aman untuk memperoleh pengetahuan ketika digunakan sendiri. Ia bisa menyembul keluar sangat mudah dan bisa memimpin kita menuju klaim-klaim yang absurd kecuali ia dikontrol atau diperiksa oleh metode-metode mengetahui yang lain.

Sifat Saling-Melengkapi Sumber-sumber Pengetahuan
Tidak ada sumber pengetahuan yang menyediakan manusia dengan semua pengetahuan. Berbagai sumber mestinya dilihat dalam suatu hubungan yang saling melengkapi dan bukannya sebagai antagonisme.

D. Validitas Pengetahuan
Bagaimana seseorang bisa mengatakan kalau beberapa keyakinan benar sedangkan yang lain keliru? Kriteria apa yang bisa digunakan? Dapatkah manusia merasa pasti kalau kebenaran memang sudah ditemukannya? Kesepakatan universal juga harus dicurigai karena bisa jadi mereka yang bersepakat kala itu memiliki kelemahan inheren yang sama. Para filsuf kebanyakan mengandalkan tiga jenis tes kebenaran berikut: teori korespondensi, teori koherensi dan teori pragmatis.

1. Teori Korespondensi
Teori korespondensi adalah sebuah tes yang menggunakan kesepakatan dengan ‘fakta’ sebagai standar penilaian. Menurut teori ini, kebenaran adalah keyakinan terhadap realitas objektif. Contohnya, pernyataan “Ada seekor singa di ruang kelas” bisa diverifikasi oleh penyelidikan empiris. Jika sebuah penilaian berkaitan dengan fakta-fakta, maka ia benar; kalau tidak, maka ia keliru. Tes kebenaran ini seringkali dianut oleh mereka yang bekerja di dalam ilmu pengetahuan.
Para pengkritik teori korespondensi mengajukan tiga keberatan berikut. Pertama, mereka bertanya: “Bagaimana mungkin kita bisa membandingkan ide-ide kita dengan realitas karena kita hanya bisa mengetahui pengalaman kita sendiri dan tidak bisa keluar dari pengalaman tersebut agar kita bisa membandingkan ide-ide kita tersebut dengan realitas dalam kondisinya yang ‘murni’? Kedua, mereka mencatat kalau teori korespondensi nampaknya mengasumsikan kalau data indera kita jelas, tegas dan akurat, padahal justru data inilah yang paling rawan bias. Dan ketiga, kritikan menyoroti kalau teori korespondensi tidak adekuat karena kita memiliki ide-ide yang tidak memiliki eksistensi kongkrit di luar wilayah pikiran manusia yang dengannya kita dapat melakukan sejumlah pembandingan.

2. Teori Koherensi
Teori ini meletakkan kebenaran di dalam konsistensi atau harmoni dengan semua penilaian. Menurut tes koherensi, sebuah penilaian benar jika ia konsisten dengan penilaian-penilaian lain yang sebelumnya diterima sebagai benar.
Kritikan terhadap pendekatan koherensi adalah sistem-sistem berpikir yang keliru bisa saja konsisten secara internal dengan sistem-sistem berpikir yang benar. Karena itulah, mereka mengklaim kalau suatu teori disebut keliru kalau tidak bisa memilahkan antara kebenaran yang konsisten dan kekeliruan yang konsisten.

3. Teori Pragmatis
Kaum pragmatis melihat tes kebenaran di dalam kemanfaatannya, bisa dipergunakannya, atau konsekuensi yang memuaskan darinya. Di benak John Dewey dan William James, kebenaran adalah apa yang bisa efektif dilakukan.

E. Epistemologi dan Pendidikan

Epistemologi, seperti metafisika, merupakan basis dari pikiran dan aktivitas manusia. Sistem-sistem pendidikan berurusan dengan pengetahuan dan karenanya, epistemologi menjadi penentu utama keyakinan dan praktik pendidikan. Epistemologi memberikan pengaruh langsung kepada pendidikan dengan banyak cara. Contohnya, asumsi-asumsi tentang pentingnya beragam sumber pengetahuan bisa tercermin dari penitik-beratan kurikulum.
Di titik ini, sudah sangat jelas kalau manusia ditarik di antara dua kutub, metafisika dan epistemologi. Meskipun studi tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar, manusia tetap didorong untuk menyadari kecil dan tak berdayanya ia di alam semesta. Dia harus menyadari kalau tak ada apapun yang bisa diketahui dengan pasti dalam artian memiliki bukti final dan ultimat, melainkan semua pengetahuan selalu terbuka dan bisa saja ditolak atau diterima oleh semua orang. Penerimaan terhadap suatu pandangan tertentu di dalam metafisika dan epistemologi lebih mirip ‘pilihan-iman’ yang dibuat individu, dan di dalamnya terkandung sebuah komitmen kepada suatu jalan hidup tertentu.
Kesimpulan dari dilema metafisik-epistemologis ini adalah semua manusia hidup oleh iman berdasarkan keyakinan dasar yang sudah mereka pilih. Individu yang berbeda pasti membuat pilihan-iman yang berbeda di dalam kontinum metafisik-epistemologis dan karenanya memiliki beragam pandangan filosofis. Sisa buku ini akan menguji implikasi-implikasi pendidikan dari pilihan-pilihan filosofis yang berbeda tersebut.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.