Pendidikan Keguruan yang Lepas Kendali

20 12 2009

PENDIDIKAN KEGURUAN YANG LEPAS KENDALI
(Melihat Komersialisasi Pendidikan Dengan Perspektif Nilai)

Oleh :Taman Firdaus

Nilai, merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi dalam keseharian kita. Kita menemukan penggunaan istilah ini pada berbagai aspek kehidupan. Misalnya, dalam ranah agama kita mengenal nilai ketuhanan, nilai keimanan, nilai ketaatan dan beberapa nilai keagamaan lainnya. Pada ranah sosial, kita mengenal istilah nilai kemanusiaan, nilai musyawarah, nilai kekeluargaan, nilai kesopanan dan lain sebagainya. Nilai, pada prinsipnya adalah sesuatu yang berharga, indah dan bermakna bagi kehidupan. Nilai dijadikan sebagai ukuran dalam menakar moralitas dan peradaban sebuah bangsa.
Dalam konteks pendidikan, durkheim mengatakan bahwa pendidikan berperan sebagai salah satu media tranformasi nilai dan moral. Berangkat dari peran pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh durkheim ini maka seyogyanya pendidikan harus diarahkan pada proses pemanusiaan manusia itu sendiri melalui transformasi nilai yang berkelanjutan dan sistematis bukan malah sebaliknya manusia dicekoki dengan paham materialistis dengan praktek-praktek pendidikan yang materialistis pula. Sebut saja, maraknya praktek penerimaan mahasiswa baru dalam partai besar tanpa mempertimbangkan aspek “deman” permintaan pasar diberbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini semakin diperparah dengan menjamurnya perguruan tinggi baru yang tidak jelas status dan sistem perkuliahan, atau perguruan tinggi yang telah mendapatkan ijin operasional namun belum memenuhi standar mutu dalam bentuk akreditasi lembaga atau jurusan tetapi ber-ulah, pamer kekuatan “sow force” dengan menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya untuk mengejar setoran.
Praktek-praktek semacam ini merupakan bentuk nyata dari komersialisasi dibidang pendidikan sekaligus merupakan anak haram dari paham liberalisme pendidikan. Secara empirik, komersialisasi dibidang pendidikan ini nampak dan mencolok sekali pada pendidikan keguruan. Kondisi ini ditengarai oleh semakin meningkatnya animo masyarakat terhadap pendidikan keguruan sebagai akibat dari sedikit meningkatnya kesejahteraan tenaga pendidikan seperti guru, dosen dan guru besar melalui program sertiffikasi nasional terhadap ketiga elemen tersebut. Oleh oknum-oknum penyelenggara dan pengelola pendidikan tinggi baik swasta maupun negeri memanfaatkan kondisi ini dan menjadikan pendidikan keguruan menjadi lahan bisnis baru untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran pribadi dan yayasan. Meski berangkat dari alasan klise seperti, kebutuhan pasarlah; mengakomodir keinginan masyarakatlah dan alasan-alasan pembenaran lainnya, tetap itu semua merupakan langkah mengkomersilkan pendidikan khususnya pendidikan keguruan sebab tidak dilandaskan pada analisa kebutuhan nyata dalam masyarakat
Analisa kebutuhan yang penulis maksudkan disini adalah berkenaan dengan analisa terhadap ketersediaan sekolah, jumlah rombongan belajar, mata pelajaran yang diajarkan, jumlah calon siswa dan mahasiswa pada tiap jenjang pendidikan, jumlah guru yang ada, rencana pembukaan unit sekolah baru mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini sampai pada pendidikan menengah dan perguruan tinggi dimana perguruan tinggi itu berada. Hasil analisa inilah yang dijadikan sebagai dasar penerimaan dan penentuan berapa jumlah mahasiswa yang akan diterima dan sekaligus akan menjadi calon guru kedepannya, bukan atas dasar kepentingan sesaat. Jika analisa ini dilakukan, maka rasio ketersediaan tenaga guru tidak akan over produk dan citra lembaga dimata alumni juga tidak merosot.
Pada sisi lain, komersialisasi pendidikan keguruan ini juga semakin nampak wajahnya ketika dalam proses perkuliahan berlangsung berbagai fasilitas penunjang perkuliahan seperti sarana perpustakaan, laboratorium internet, lab bahasa bagi yang membuka program bahasa dan fasilitas penunjang lainnya hampir tidak dipenuhi secara utuh karena keberpihakan terhadap peningkatan mutu proses yang rendah. Namun, pada saat heregistrasi dilakukan maka akan nampak betapa para penyelenggara pendidikan keguruan melakukan intimidasi-intimidasi kepada mahasiswa dalam bentuk regulasi sepihak demi keuntungan lembaga. Teriakan mahasiswa miskin tidak didengarkan, pekikan para orang tua wali yang meminta penundaan pembayaran tidak di indahkan “inilah” bentuk nyata dari komersialisasi pendidikan itu. Parahnya lagi, tugas akhir mahasiswa baik dalam bentuk paper atau dalam bentuk penelitian skripsi bukan menjadi sebuah maha karya bagi sang mahasiswa melainkan menjadi mega proyek bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Lagi-lagi wajah komersialisasi pendidikan pada ranah pendidikan keguruan telah melahirkan para calon-calon guru yang mandul dalam melahirkan penelitian-penelitian yang bermakna bagi peningkatan kualitas pembelajaran ketika dia menjadi guru pada saatnya nanti, sebab basic penelitian dan pengembangan pembelajaran yang relatif rendah.
Jika kondisi pendidikan keguruan kita wajahnya seperti ini, pertanyaannya bagaimana pendidikan itu mampu melahirkan manusia—manusia unggul yang didalam nuraninya memiliki keagungan nilai sebagai manusia, sumber daya yang dapat menjadi agen transformasi sosial secara berkelanjutan dan penuh dengan nilai-nilai kearifan, dan ketauladanan. Pantas pendidikan kita, meski telah 64 tahun merdeka belum mampu menjawab permasalahan-permasalah krusial yang dihadapi oleh masyarakat bangsa kita. “Tidak ada yang baru di bawah mentari”, demikianpun dalam pendidikan, setiap perubahan yang terjadi merupakan langkah penyempurnaan terhadap proses yang pernah berlangsung sebelumnya. Jika selama ini kita sering mendengar bahwa ganti menteri pendidikan maka ganti juga kebijakan dan elemen-elemen lain dalam pendidikan, “”itu mungkin benar”, karena ini menyangkut skala prioritas dari masing-masing rezim dengan out put yang bersifat temporer, atau misal pada saat ini kita menemukan adanya perubahan kurikulum pendidikan kita, dari paradigma behavioristik ke kurikulum yang mengedepankan pencapaian kemampuan khusus yang dibungkus dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dimana “Kognitivisme” sebagai platform pelaksanaannya, tetapi satu cetak biru (Blue Print ) yang perlu di camkan bahwa pendidikan harus netral untuk kemajuan kemanusiaan. Namun kenapa harus lahir pendidikan dengan wajah komersial yang kurang ramah seperti saat ini.
Mungkinkah kondisi ini disebabkan, karena masih adanya dikotomi kebijakan antara perguruan tinggi negeri dan swasta ataukah belum munculnya itikad baik dari elit politik negeri untuk memajukan pendidikan dan memberangus praktek-praktek komersialisasi pendidikan khususnya pendidikan keguruan atau mungkin pula kesadaran kita yang menempatkan pendidikan sebagai sebuah proses pemanusiaan manusia itu sendiri yang masih rendah sehingga kontrol kita terhadap proses-prose pendidikan yang menyimpang seperti komersialisasi pendidikan yang muncul dewasa ini menjadi lemah ? Jika dikatakan tidak ada itikad, mungkin kurang tepat karena anggaran pendidikan kita telah mencapai angka konstitusi yakni 20 % dari APBN. Di samping itu, ditingkat daerah ditemukan juga beberapa kepala daerah yang sangat konsen dalam meningkatkan mutu pendidikan meski itu hanya dalam bentuk bangunan fisik yang megah atau jumlah tenaga pendidikan yang menumpuk. Lantas apa ?
Dari rangkaian diskusi yang penulis bangun dengan beberapa elemen pendidikan, ternyata kondisi ini lebih disebabkan karena minimnya perhatian pemerintah terhadap perguruan tinggi swasta. Andaikan berimbang perhatian yang diberikan oleh pemerintah ditambah dengan kebijakan-kebijakan dibidang pendidikan yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan masyarakat maka praktek-praktek komersialisasi yang marak muncul saat ini mungkin dapat dikendalikan. Disamping itu, masalah kesadaran massif kita terhadap proses pendidikan yang masih rendah juga menjadi faktor yang semakin memberikan iklim yang luas untuk tumbuhnya praktek-praktek komersialisasi pendidikan khususnya pendidikan keguruan dewasa ini. “Seleksi, teliti, dan pilih”, tiga konsep ini paling tidak harus tumbuh dalam ruang kesadaran masyarakat jika ingin mengendalikan laju komersialisasi pendidikan dewasa ini.
walahu alam, ini akan menjadi bahan renungan kita semua dan sekaligus akan menjadi catatan untuk kita diskusikan bukan hanya menjadi tulisan sempalan yang lapuk ditelan waktu pasca terbitnya tulisan ini.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarja UNY dan Dosen STAI Muh. Bima


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: