TEORI PSIKOLOGI DAN PEMBELAJARAN (Bagian 1)

27 12 2009

TEORI PSIKOLOGI DAN PEMBELAJARAN (Bagian 1)
Oleh : Taman Firdaus

1. Asal mula Filosofis.
Akar dari ilmu dapat dilihat dari tinjauan filsafat. Sebagian besar filsuf berasal dari yunani seperti aristoteles, plato , dll. Dalam tulisan-tulisan mereka dapat ditemukan gagasan-gagasan awal yang kemudian diteruskan kepada pemikir-pemikir generasi selanjutnya. Pada akhirnya gagasan-gagasan itu menjadi sumber dari filsafat dan ilmu yang dikembangkan oleh bangsa barat. Disamping itu, ketika kita mencari akar filsafat maka kita dapat mengasumsikan sebagai skema akademik yang agak abstrak dan seringkali prosedur semacam itu digunakan untuk melegitimasi gagasan yang kurang dalam, namun demikian sangat sulit untuk menerima mengapa teori ilmiah tertentu diformulasikan tanpa memahami asal mula filsafat. Karena perhatian kita saat ini pada teori belajar dari sudut pandang psikologi perlu kiranya untuk menyajikan pemikiran yang ada berkaitan dengan sifat psikologi yang mendahului formulasi teori-teori tersebut.
Sejarah psikologi sebagai ilmu pengetahuan eksperimental dimulai pada tahun 1879, pada saat Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium di Leipzing-Jerman yang dirancang untuk penelitian di bidang psikologi. Tahun tersebut digunakan sebagai penanda, tetapi salah jika menganggap bahwa semua trend dan issue yang terjadi dalam sejarah psikologi akademis dapat dilacak dari sejarah pemikiran Wundt. Karena wundt sendiri adalah produk dari persentuhan beberapa pemikiran sebelumnya dan juga ada issue yang penting dalam psikologi tetapi tidak masuk dalam pemikiran Wundt. Untuk memahami pendukung filosofis dari teori-teori yang kita reviu, maka kita perlu kembali sebelum eranya Wundt dan para ahli psikologi awal seperti James dan Titchner yang mengkonstruksi tahapan bagi orang-orang tersebut dalam hal asal mula historis dari isu yang mereka anggap penting dan masih muncul dalam pemikiran modern. Karena sejarah teori belajar modern biasanya dimulai dari pemikiran Thorndike, kita akan menyiapkan penyajian teori ini dengan melihat asal mula dua trend berbeda dalam pemikiran filosofis yang digunakan dalam konsep Thorndike. Secara filosofis kedua aliran ini disebut sebagai Hedonism dan associationism.

A. Hedonism
Sangat jelas dalam observasi pada aktifitas manusia dan binatang bahwa perilaku itu diarahkan pada tujuan untuk meningkatkan rasa senang dan avoiding pain (menghindari rasa sakit). Akibat dari perilaku hedonistik seperti itu, diterima dalam pemikiran filsafat barat. Tetapi tidak dapat diasumsikan bahwa pengaruh hedonistik seperti itu merupakan satu-satunya determinants/penentu perilaku manusia. Bagaimanapun juga manusia dipandang rasional (tidak seperti binatang) dan dengan kekuatan pikiran dia, dia dapat mengendalikan pengaruh-pengaruh hedonistik dengan menggantikannya dengan pikiran pikiran intelektual.
Pemikiran-pemikiran seperti itu sama dengan pemikiran Plato dimana dia membandingkan perilaku manusia dengan perilaku binatang. menurut plato, hewan hanya mengejar aspek sensual dalam hidup dan didominasi oleh kesenangan mereka sendiri. Sedangkan manusia memiliki kemampuan berpikir dan kehendak bebas untuk mengendalikan keberadaan aspek sensual tersebut. Prilaku manusia dapat ditentukan oleh rasa senang tetapi tidak selalu. Sedangkan hewan selalu dikendalikan oleh aspek sensual dan kesenangannya. Pemikiran yang sama dapat ditemukan dalam tulisan Democritus, Epicirus dan filsuf yunani lain. Democritus dalam membahas pengaruh dorongan binatang dalam perilaku manusia menyatakan bahwa pengaruh itu harus dipisahkan dari pertimbangan moral; hasrat binatang (penyebab hedonistik) tidak selalu lebih rendah dalam pandangan rasional dan intelektual hanya saja kurang berguna untuk jangka panjang. Sedangkan menurut Epicurus yang penting dalam kehidupan adalah kebahagiaan dan rasa senang. Rasa senang yang dimaksudkan disini adalah kebahagiaan saat ini dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan datang. Karena menurut Descartes manusia memiliki dualisme pemikiran dan keduanya (pikiran dan benda) berinteraksi dengan cara tertentu. Tetapi premis dasar bahwa perilaku organisme pada masa yang akan datang sebagian ditentukan oleh konsekuensi perilaku manusia. Premis dasar seperti itu, dapat dilihat dalam sejarah fisafat barat dalam tulisan-tulisan Bentham, Mill, Hobbes dan lain-lainnya. Untuk tujuan ini kita hanya mereviu pemikiran Herbert Spencer karena merepresentasikan sejarah teori belajar modern.
Teori-Teori Spencer dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori evolusi Darwin dalam ranah hedonistik. Salah satu aspek dari sejarah Darwin adalah pernyataan bahwa aspek dari penting dari perilaku dan karakteristik dari makhluk hidup adalah adalah nilai bertahan hidupnya. Faktor-faktor yang mendukung kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi dan berubah, perilaku-perilaku manusia untuk bertahan, nantinya dalam jangka waktu yang lama akan tetap ada dan berlangsung dari satu generasi kegenerasi selanjutnya. Dalam pernyataan dasar ini, Spencer menambahkan dimensi kesenangan (pleasure) dan rasa sakit (pain). Dengan logika ini, seleksi alam nampaknya dalam jangka panjang cenderung mendukung hubungan antara faktor-faktor yang membantu makhluk hidup untuk bertahan hidup dan faktor-faktor yang menciptakan rasa senang. Sebagai contoh, makan itu menimbulkan rasa senang dan juga untuk bertahan hidup. Tetapi ini tidak hanya benar namun juga jelas bahwa ada makanan yang lebih lezat dari makanan yang lainnya (misalnya antara makanan manis dan makanan pahit; orang cenderung memilih makanan yang manis). Analisis jenis-jenis makanan yang tersedia bagi makhluk hidup untuk dimakan, menunjukkan bahwa lebih sering makanan yang manis lebih baik bagi makhluk hidup dari makanan yang pahit. Maka, apa yang terjadi melalui seleksi alam, adalah bahwa mhkluk hidup akan mencari kesenangan dan akan menghindari rasa sakit dengan cara memakan makanan manis dan tidak memakan yang pahit (ini adalah prinsip-prisnsip hedonistik).

B. Associationism
Ketika seseorang diminta untuk memberikan respon terhadap kata “meja” maka jawaban yang paling mungkin dia akan mengatakan “kursi”. Respon ini terjadi secara otomatis seakan-akan dua kata itu saling berkaitan dalam mekanisme cerebral (Cerebral : Bagian dari otak yang mengatur dan mongkordinasikan gerakan-gerakan reflek). Perilaku semacam itu adalah sangat umum karena elemen-elemen tersebut saling terkait sedemikian rupa sehingga kejadian yang satu akan menghasilkan kejadian yang lain. Penjelasan tentang hal ini dalam ranah filsafat dapat dilihat pada tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh filasafat yunani. Aristoteles misalnya, memori difahami sebagai association of mental element . Dengan cara melihat padanan/persamaan/sinonim (similarity), pertentangan/antonim (contrast), atau pertautan (contiguity) maka gagasan akan dihasilkan oleh gagasan yang lain dan atau ide-ide yang dimunculkan oleh pengalaman inderawi akan menstimulasi ide lain. Jadi alasan seseorang memberikan respon dengan kata “kursi” pada kata “meja” adalah bahwa kedua kata itu dipautkan sebelumnya. Alasan bahwa respon untuk kata “putih” adalah “hitam” karena keduanya diasosiasikan sebagai opposites (lawan kata), and so on (dan lain-lain). Perkembangan awal aliran pemikiran ini berasal dari para filsuf inggris yang biasa disebut British associationist.
Yang menjadi pusat pemikiran British associationist adalah pernyataan dasar bahwa pekerjaan pikiran itu mengikuti aturan hukum yang memiliki sifat-sifat serupa hukum mekanis yang mendasari gejala fisik. Hukum fisika seperti Newton Grafitational laws atau Boyls’s Law adalah deskripsi dari apa yang terjadi pada kondisi tertentu.
Yang dianggap sebagai penggagas faham faham associationism adalah Thomas Hobbes walaupun dalam perkembangan-perkembangan besar dilakukan oleh orang lain, yang paling terkenal adalah John Locke, David Hume, David Hartley, James Mill dan John Stuart Mill. Menurut Locke otak dan pemikiran merupakan tabula rasa atau kotak hitam yang mana tempat menyimpan seluruh memori pengalaman. Semua pengetahuan diberikan ke otak yang berisi pengalaman, sensasi pemikiran . John Stuart Mill menamakan teorinya “chemistry mental” yaitu proses yang dapat terjadi dalam beberapa kumpulan ide-ide. Dia menjelaskan bahwa suatu ide sederhana diperoleh dari sensasi dan ingatan, dan bahwa ide yang komplek dibentuk dari beberapa kombinasi ide yang simpel (sederhana). Mill mengungkapkan bahwa ide yang komplek dapat terdiri dari ide-ide simpel yang berkesinambungan, tetapi tidak semuanya terdiri dari ide-ide simpel tersebut. William james, menerapkan bahwa associatinism berasal dari similarity (persamaan), contiguity (keberlanjutan), dan contrast (kontra) .

2. Pentingnya psychology sebagai ilmu pengetahuan
Psikologi sebagai ilmu dimulai pada tahun 1879, sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi di kota Leipzig. Bagi Wundt esensi psychology adalah penelitian, suatu penelitian dapat menjawab semua pertanyaan tentang pemikiran sebagai dasar seseorang filosofi. Oleh sebab itu munculah istilah “science of experience” dan memiliki tiga masalah utama , yaitu: (1) analisis proses kesadaran terhadap hal yang paling mendasar, element-element yang mendukung (2) memahami hubungan antara element-element tersebut, (3) memahami hukum/aturan dari hubungan elemen-elemen tersebut. Psychology terdiri dari beberapa element yaitu: perasaan dan persepsi subjek tersebut terhadap rangsangan. Oleh sebab itu sangat penting untuk diketahui bahwa berbicara tentang psychology tidak jauh dari membicarakan persepsi, emosi, reaksi, dan beberapa hal umum lainnya yang berkaitan dengan dunia fisik dan kesadaran.
Bertolak dari teori atom dalam ilmu kimia, Wundt beranggapan bahwa mempelajari psikologi menyangkut telaahan unsur-unsur dasar (mental atom) atau atom-atom dasar pengalaman mental manusia . Melalui metode instropeksi, Wundt mengadakan analisis dan menentukan unsur-unsur pengalaman manusia. Perhatian ditunjukkan kepada sensasi, persepsi dan pengalaman mental manusia terhadap rangsangan-rangsangan yang diterimanya. Hal ini dilakukan untuk menganalisis cara bekerjanya pikiran manusia.
Jadi pada awalnya Wundt tidak melakukan studi tentang masalah belajar, tetapi pada hal-hal yang beraneka ragam tentang hubungan dunia fisik dengan pengalaman manusia secara sadar. Dari sinilah awal mula psikologi dipelajari sebagai ilmu, sebab mulai dilakukan usaha mengadakan analisis pikiran manusia melalui percobaan-percobaan dengan menggunakan metode-metode yang sistematis sekalipun masih dalam ruang lingkup yang terbatas.
Gagasan Wundt dilanjutkan oleh salah seorang muridnya yakni Edward Titchener. Disamping itu, apa yang telah dilakukan oleh Wundt mendorong para ahli psikologi lainnya untuk mengadakan penelitian-penelitian psikologi lebih lanjut.

3. Kerangka Dasar Teori Psikologi
Para psikolog dalam membangun teori-teori psikolgi dalandaskan pada beberapa pendekatan berikut, yaitu :
1. Pendekatan yang mengkaitkan (mensintesiskan) hasil temuan dengan studi yang sedang di kerjakan (related studies).
2. Pendekatan yang mengkaitkan (mensintesiskan) hasil temuan dengan beberapa model yang fokus pada beberapa proses atau sub-proses studi psikologi (miniature model).
3. Pendekatan yang mengkaitkan hasil temuan dengan beberapa teori yang komprehensif agar diperoleh teori psikologis yang komprehensif pula (comprehensive theory)
4. Mewujudkan kesepakatan untuk membangun satu teori yang diterima bersama sebagai kerangka dasar untuk mengembangkan teori psikologi yang komprehensif.
5. Berdasarkan pendekatan keempat di atas muncul aliran-aliran dan pandangan psikologi yang berbeda sehingga terjadi persaingan satu sama lainnya, menuju kepada teori psikologi komprehensif.
6. Pendekatan yang berorientasi kepada penelitian psikologi yang terintegrasikan dengan teori perilaku atau ilmu sosial.
Keenam pendekatan tersebut terlihat hampir dalam setiap tahap perkembangan sejarah psikologi yang dimulai pada akhir abad 19. Ada empat periode, pengembangan teori psikologi dan belajar yaitu pertama, akhir abad ke-19 yang ditandai dengan timbulnya psikologi sebagai ilmu. Kedua, periode pertama abad ke-20 yang melahirkan beberapa aliran psikologi yang saling bersaingan. Ketiga, Periode tahun 1930-1950 yang ditandai dengan teori psikologi dan belajar komprehensif. Keempat, periode pertengahan abad ke-20 yakni periode yang ditandai dengan banyaknya psikolog mengadopsi pendekatan model miniatur dalam menyusun teorinya.

4. Aliran-Aliran Psikologi antara 1900-1930.
Setelah psikologi muncul sebagai ilmu pada akhir abad ke-19 timbul beberapa konsepsi dan aliran psikologi yang saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan pengaruhnya terhadap studi psikologi lebih lanjut. Ada lima aliran psikologi pada masa tahun 1900-1930 yakni strukturalisme, fungsionalisme, behaviorisme, psikologi gestalt dan psikoanalisa.
A. Strukturalisme
Strukturalisme merupakan psikologi model Wundt yang dibawa oleh Edward Titchener ke Amerika. Ia mendirikan laboratorium psokologi yang pertama di Amerika yaitu di Cornel University. Dalam penelitian dan percobaannya Titchener menekankan perlunya analisis kesadaran menjadi unsur-unsur yang disebutnya struktur . Menurut pendapatnya bahwa psikologi merupakan ilmu murni bukan ilmu terapan. Titchener menganalisis dan mengidentifikasi kesadaran manusia. Asumsi yang digunakannya adalah bahwa kesadaran yang kompleks terdiri dari unsur-unsur atau elemen dasar dan kombinasi dari unsur dasar itu (mental atoms), secara bersama membentuk pengalaman kognitif seperti persepsi, imajinasi, emosi dan pikiran .

B. Functionalism
Penemu fungsionalisme adalah John Dewey, yang diikuti oleh James Angell, Harvey Carr, dan lain-lain. Mereka menaruh perhatian pada fungsi pengalaman dalam membantu individu mengadaptasi atau menyesuaikan dengan lingkungannya. Kawasan fungsionalisme meliputi kegiatan manusia dan hewan. Mereka menerima instropeksi sebagai metode studinya, tetapi mereka juga menekankan akan pengamatan objektif yang terkontrol. Mereka sangat terpengaruh oleh pendapat Darwin bahwa spesies bertahan dan menghasilkan keturunan karena keberhasilannya mengatasi kebutuhan lingkungan yang berubah. Sebagaimana tersirat pada namanya, kalangan fungsionalis sangat tertarik pada aktivitas-aktivitas manusia, bukan semata-mata dalam hubungannya dengan unsur-unsur pengalaman mental, tetapi juga terutama dalam fungsi-fungsi adaptasi dalam menghadapi lingkungannya. Ilmuwan fungsionalis memperluas domain psikologi untuk dapat memasukkan seluruh aktivitas manusia sekaligus binatang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, aliran fungsionalisme mempelajari fungsi dari tingkah laku atau proses mental, bukan hanya mempelajari strukturnya. Oleh karena itu, perhatiannya kepada aktifitas psikologis dan tujuan dari aktifitas tersebut. Dua aspek lain dari fungsionalisme adalah (1) hal-hal yang bersifat “coommon sense” tidak ditolak secara kategoris, tetapi dianggap sebagai informasi ilmiah yang timbul. (2) tidak ada perbedaan antara psikologi murni dan psikologi terapan.
Oleh karena itu perlu digunakan metode observasi tingkah laku. Ada dua macam metode observasi tingkah laku yakni metode phisiologis yang menguraikan tingkah laku dari sudut anomi dan metode variasi kondisi yang mempelajari tingkah laku dari sudut psikologis. Sedangkan metode instropeksi digunakan sebagai pelengkap metode observasi.
Pemikiran Dewey sebagai penemu aliran fungsionalisme di Amerika, sangat mengutamakan pragmatisme yakni memberi tekanan kepada apa kegunaan dari pada jiwa atau tingkah laku tersebut. Pemkiran ini membawa pengaruh yang kuat terhadap pendidikan. Dalam bidang pendidikan ia mengajurkan metode belajar “learning by doing”. Dewey berpendapat untuk mempelajari sesuatu tidak perlu mempelajari teori yang banyak, tapi harus langsung melakukan apa yang hendak dipelajari tersebut. Untuk itu harus menguasai gerakan/perbuatan yang tepat agar dapat dipelajari secara sempurna .
Minat terakhir dalam permasalahan terapan, termasuk isu-isu pendidikan, mungkin berkembang sebagian karena fungsionalisme muncul sebagai aliran ilmu pengetahuan ketika para ilmuwan psikologi di negara ini diminta untuk membantu mencari solusi permasalahan sosial ini. Tetapi, pengaruh personal Dewey tidaklah bisa diremehkan. Terutama sebagai filosof, dengan beberapa training sebelumnya sebagai pakar psikologi, Dewey menjadi salah satu pendidik terkemuka zaman ini.
C. Behaviorisme
Aliran behaviorisme dimulai oleh John B. Watson. Menurut Watson perilaku yang seharusnya menjadi subjek pokok psikologi bukan kesadaran akal (mind) . Psikologi harus cukup luas untuk menampung perilaku dari semua organisme hidup. Metode instropeksi menurutnya terlalu subjektif bertitik tolak pada konsep refleks dari neorologi (ilmu syaraf). Watson berpendapat studi psikologi hendaknya mempelajari respon organisme terhadap stimuli. Muncullah formula “S – R” (stimulus – Respons). Watson berpendapat bahwa idenntifikasi unit S – R menyerupai refleks yang membentuk perilaku sederhana dan perilaku yang kompleks.
Walaupun beberapa perilaku dasar manusia diperoleh secara turun temurun, sebagian besar perilaku manusia dan hewan merupakan hasil belajar. Dengan demikian pusat perhatian pindah dari studi akal menjadi studi perilaku dengan tekanan khusus pada proses belajar, Watson berpendapat psikologi harus menjadi ilmu yang objektif. Psikologi harus mempelajari tingkah laku nyata (tingkah laku overt) disamping tingkah laku yang tidak tampak dari luar seperti berpikir dab beremosi. Tingkah laku yang tidak nyata disebutnya tingkah laku kovert.
Behaviorisme tidak menutup kemungkinan untuk mempelajari tingkah laku kovert sepanjang dapat diterangkan dalam perbuatan implisit. Berpikir menurut Watson adalah gerak bicara yang implisit atau bicara yang tidak tampak. Pengaruh Watson dalam bidang pendidikan cukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku. Ia percaya dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, dapat membuat anak didik mempunyai sifat-sifat tertentu. Pengaruh lainnya terhadap psikoterapi, yakni penggunaan teknik kondisioning untuk menyembuhkan kelainan tingkah laku.
Terdapat beberapa aspek dari faham funcsionalist dan behaviorsm yang berlawanan dengan faham structuralist yang berkaitan dengan psikologi pembelajaran yaitu pertama, Pembelajaran menjadi aspek yang lebih penting dan mendominasi dalam penelitian psikologi pada ranah belajar. Kedua, Tujuan ataupun purpose yang lebih besar adalah permintaan dalam proses experiment psikologi sebagai hasil langsung merupakan penemuan baru dalam objek studi perilaku. Ketiga, Menggambarkan tentang reflex neurologi yaitu rangsangan respon (S-R) yang menjadi dasar studi prilaku simple dan complex dan sebagai suatu pembaharuan dalam psikologi teori.
D. Gestalt Psychology
Aliran gestalt muncul dari psikologi Jerman-Max Werheimer, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Psaikologi Gestalt dimulai dengan studi tentang persepsi. Gestalt berarti susunan atau perkumpulan. Gestalt psykologi mengungkapkan bahwa pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana caranya memecahkan suatu masalah. Faham ini merupakan perkembangan dari faham structuralism dan behaviorist. Pandangan psikologi gestalt (psikologi kognitif) bahwa tingkah laku individu dikontrol oleh kemampuan organisme dan lingkungannya. Oleh karena itu poin esensial dari psikologi Gestalt adalah bahwa keseluruhan lebih bermakna dari bagian-bagian. Jadi tidak benar bila memberikan penekanan pada unsur-unsur dasar fundamental. Gestalt mengutamakan pada bentuk, konfigurasi atau bentuk-bentuk yang terlibat dalam pengalaman seseorang secara keseluruhan mengenai suatu situasi. Gestalt setuju dengan para strukturalisme bahwa psikologi adalah studi tentang pengalaman, tapi mereka menganjurkan menggunakan pengamat yang telah dilatih sehingga dapat melaporkan persepsi apa adanya. Ada beberapa perbedaan antara aliran Gestalt dengan aliran behaviorisme.
Menurut Gestalt, apa yang dilakukan manusia merupakan fungsi keturunan, sedangkan behaviorisme beranggapan bahwa apa yang dilakukan seseorang merupakan fungsi belajar. Pengikut behaviorisme mengatakan bahwa belajar dapat dipelajari dalam unit-unit S – R, sedangkan pengikut Gestalt mengatakan bahwa kegiatan kognitif sangat komplek dan perlu dipelajari secara keseluruhan, sehingga studi tentang belajar harus terdiri dari problem solving.
Aliran Behaviorisme dan Gestalt sering disebut aliran kontemporer yang mengkritik aliran ortodoks dari Wundt. Perbedaannya, kalau aliran behaviorisme tidak sependapat dengan kesadaran, tetapi lebih menekankan pada tingkah laku nyata. Sedangkan aliran Gestalt masih mengakui kesadaran namun tidak terpisah pisah dalam bentuk elemen-elemen, melainkan dalam bentuk yang utuh (totalitas). Ciri utama dari aliran Gestalt adalah mempelajari gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas .
E. Psikoanalisa
Psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud . Freud mengungkapkan bahwa psikoanalisa merupakan induk dari pada semua teori dan method dalam penelitian.
Sebagian besar aliran yang berkembang pada era ini, termasuk semua aliran yang disebutkan di atas, dikembangkan sesuai dengan penelitian laboratorium dengan komitmen utama atau bahkan total pada berbagai temuan ‘ilmu murni’. Sigmund Freud menemukan posisinya sesuai dengan praktek medis. Walau psikoanalisis itu memiliki kontak tak-langsung dari pada langsung dengan psikologi pembelajaran dan praktek pendidikan, aliran ini memiliki dampak memadai terhadap psikologi sebagai ilmu dan profesi sehingga review kita tentang sistem-sistem pembelajaran zaman ini tidak akan sempurna tanpa setidaknya mengakui keberadaannya, serta banyak kontribusi yang diberikannya.
Ia mengembangkan sejumlah prosedur untuk memperlakukan para pasien, selain mengembangkan teori karena ia tertarik untuk dapat memahami masalah yang mendasari dan penjelasan tentang mengapa teori ini bekerja. Meskipun konsepsi psikoanalisis Freud tak secara langsung berhubungan dengan proses-proses pembelajaran atau dengan pendidikan semata, ada sejumlah cara langsung dan tidak langsung di mana psikoanalisis dapat mempengaruhi teori pembelajaran dan teori pengajaran yang sedang berkembang. Misalnya, ia sudah mengalihkan perhatian pada fakta bahwa banyak karakteristik kepribadian orang dewasa kita punya asal-mula pada pengalaman masa kanak-kanak. Ia mengamati bahwa semua jenis perubahan, termasuk pembelajaran dan pendidikan informal, bisa menimbulkan kecemasan dan umumnya dapat membentuk pengalaman yang lebih sulit dibanding pengalaman yang jelas terlihat dalam pengamatan per kasus.
Freud mempopulerkan konsep “bawah-sadar” sebagai determinan utama perilaku manusia. Ia juga mengembangkan tesis bahwa semua jenis perubahan—termasuk pembelajaran—cenderung mengendapkan sejumlah kecemasan pada diri seseorang.

5. Tinjauan Kembali Tentang Aliran-Aliran
Lima aliran di atas mempengaruhi penelitian-penelitian psikologi pada awal abad ke-20, namun pengaruhnya mulai berkurang pada tahun 1930 sebab penelitian-peneltian psikologi selanjutnya lebih memusatkan perhatian kepada masalah proses sentral psikologi seperti belajar, motivasi, persepsi. Teori-teori belajar komprehensif menjadi kekuatan dominan dalam perkembangan selanjutnya. Pola yang berkembang antara lain (a) psikologi mengutamakan penelitian dan percobaan-percobaan, (b) tekanan studi psikologi menggunakan observasi perilaku, (c) tekanan kepada pentingnya proses belajar, (d) penerapan analisis S-R dalam studi perilaku dan (e) penelitian tentang belajar merupakan ilmu dasar bukan sekedar ilmu terapan.

6. Beberapa Tipe Umum Teori
Teori Stimulus-Respon atau Teori Pengkondisian. Teori stimulus-respon atau teori pengkondisian biasanya menekankan analisis obyektif atas perilaku sebagai suatu alat untuk menderivasi teori-teori pembelajaran, dan teori-teori itu biasanya menerima asumsi bahwa kita dapat memahami proses-proses pembelajaran yang kompleks dengan cara paling baik setelah kita memperoleh sekurang-kurangnya pemahaman mendasar tentang proses-proses pembelajaran yang lebih sederhana. Asumsi ini menimbulkan harapan bahwa memahami proses-proses sederhana itu dapat dilakukan secara lebih baik dan bahwa temuan dan teori yang dihasilkannya akan mempunyai implikasi bagi penjelasan mengenai proses-proses pembelajaran yang lebih kompleks.
Teori-teori pengkondisian tentang pembelajaran mendominasi banyak dari penyusunan penelitian dan teori mengenai proses-proses pembelajaran dan sudah memperoleh daya hidupnya di dalam psikologi akademik sehingga banyak orang kemudian mempersamakan istilah teori pembelajaran dengan beberapa bentuk konseptualisasi pengkondisian. Terdapat dua kondisi utama, dalam teori pembelajaran pengkondisian. Pertama secara umum disebut pengkondisian instrumental (instrumental conditionings) dan diderivasi dari karya Erdwad L. Thorndike. Tradisi pengkondisian utama lainnya secara umum disebut pengkondisian klasik (classical conditioning) dan terutama diderivasi dari karya Ivan Pavlov . Singkat kata, teori ini menggambarkan bahwa stimuli dalam situasi berperan sebagai pemicu organisme untuk berperilaku. Stimuli yang sebelumnya ‘netral’ memperoleh kemampuan untuk mengontrol perilaku dan dengan demikian menimbulkan pembelajaran sebagai hasil dari dipasangkan dengan stimulus yang sudah memiliki kemampuan untuk menjelaskan respon seperti itu.
Teori-teori kognisi. Teori-teori kognisi mengenai pembelajaran khususnya menekankan pada proses-proses intelektual kompleks, seperti pemikiran, bahasa, dan pemecahan masalah sebagai aspek utama proses pembelajaran. Sudah sering dikatakan bahwa kita dapat lebih siap mengidentifikasi apakah teori-teori kognisi itu melawan atau malah mendukung. Teori-teori itu sangat kritis terhadap teori pembelajaran yang sangat menekankan pada proses pembelajaran yang sederhana sebagai basis dari mana kita mampu menderivasi penjelasan-penjelasan mengenai proses-proses pembelajaran yang kompleks.
Singkat kata, kalangan teoretisi kognisi berpendapat bahwa manusia itu mempelajari struktur-struktur kognisi dari pemahaman daripada gerakan-gerakan dan bahwa kalangan behavioris semata-mata memperhatikan hasil pembelajaran (daripada proses pembelajaran) ketika mereka berfokus pada perilaku semata.
Dalam sebagian besar dari paroh pertama abad ini, teori-teori pembelajaran kognisi terutama berperan sebagai faktor korektif dan sebagai kritik konstruktif atas formulasi-formulasi teori stimulus-respon dan pengkondisian. Tetapi, sudah ada beberapa usaha untuk mengembangkan teori-teori pembelajaran yang lebih komprehensif dalam tradisi kognisi. Salah satu yang paling awal adalah hasil karya Wertheimer, Koffka, dan Kohler, yang secara rutin diidentifikasi sebagai “kelompok gestalt klasik.”

7. Teori pembelajaran
Pada tahun 1930an dan 1940an, ada beberapa teori pembelajaran menjadi sangat penting dalam psikologi. Salah satu dari teori tersebut memiliki harapan yang bersifat eksplisit dan implisist untuk tiap posisinya sebagai satu-satunya yang memberikan suatu teori pembelajaran yang bersifat komprehensif.
A. Konektionisme dari Thorndike
Edward L Thornidike (1874-1949) adalah psikologi yang paling berpengaruh pada penelitian dan pembentukan teori belajar pada beberapa dekade dalam abad ini. Sekaligus merupakan tokoh yang berpengaruh pada psikologi pendidikan. Thorndike senang melakukan penelitian tentang bagaimana manusia dan hewan belajar, dengan mengetahui perubahan prilaku yang memungkinkan mereka mengadaptasi atau mengatasi lingkungannya. Sudah hal yang lumrah bahwa tidak hanya prilaku manusia tetapi hewan juga melakukan aktifitasnya sesuai perintah ide. Thorndike percaya bahwa sangat memungkinkan untuk mengembangkan prosedur penelitian untuk mempelajarai proses pembelajaran yang lebih sistematis.
Dari peneliatiannya, beliau menemukan bahwa subjek penelitiannya belum mampu memberikan solusi (thought through) tetapi masih dalam tahap percobaan (trial and error) sampai menemukan solusi yang tepat. Dia mengungkapkan bahawa keberhasilan dipengaruhi oleh kebaikan yang diikuti oleh faktor kesenangan. Dia juga menyimpulkan bahwa pembelajaran merupakan kekuatan dan kelemahan dari satu ikatan atau hubungan diantara situasi dan bagaimana hal tersebut berpengaruh. Dia juga menerangkan bahwa kepuasan mempengaruhi kuatnya hubungan diantara situasi dan kerjanya. Kemudian, belajar menurut Thornidike adalah proses penguatan dan pelemahan terhadap situasi dan bagaimana reaksinya yang prinsip disebut law of effect, artinya tingkah laku dipengaruhi oleh efek yakni tindakan yang membawa kesenangan bertambah dan yang mengganggu berkurang.
B. Kondisioning Klasik dari Pavlov
Pada akhir abad ke-19 Thornidike menyusun teori belajar di Amerika Serikat, seorang fisiologis Rusia bernama Ivan P. Pavlov (1849-1936) menemukan “refleks psikis” pada percobaan memberi makan binatang (anjing) oleh staf penelitinya. Setelah beberapa kali anjing diberi makan pada ruangan dan dengan kondisi tertentu, yang membuat anjing mengeluarkan air liur, maka anjing akan tetap mengeluarkan air liur pada saat peneliti masuk dengan kondisi yang sama walaupun tidak membawa makanan. Teori Pavlov dapat di gambarkan sebagai rangsangan pengganti yang menjadi inti dari prosedur dan prinsip theoritis. Secara umum, prinsip ini berperan jika satu rangsangan dapat mendapatkan satu pemberian respon, yang nantinya akan menjadi suatu respon. Hal itulah yang menjadi dasar dari Pavlov bahwa semua aktifitas dan otak-prilaku hubungan dapat dimengerti dalam aktifitas reflex. Suatu reflex tersebut mempengaruhi organism yang mendapatkan suatu respon khusus secara tidak terduga.
Pavlov membedakan dua macam refleks yaitu pertama refleks yang tidak terkondisi (Unconditioned Reflex). Unconditioned terjadi pada cara yang khusus melalui rangsangan internal dan external. Hal ini pula terjadi melalui proses naturisasi psikologi pada orgainsme tersebut yang tidak berpengaruh pada pengalaman (tidak membutuhkan pembelajaran) walaupun pengalaman tersebut mempengaruhi bagaimana unconditioned reflex terjadi di bawah proses sirkumstansi. Kedua, Refleks yang berkondisi (Conditioned Reflek). Kondisi ini terjadi selama organism tersebut mendapatkan experience (pengalaman) selama hidupnya. Jadi proses pembelajaran sangat berpengaruh sekali dalam hal ini.
Pavlov tidak menyangkal bahwa proses pembelajaran berasal dari mental activity (aktivitas mental), tetapi dia tidak yakin bahwa studi tersebut di lakukan secara tepat dalam konteks experimental control dan hanya untuk mendapatkan tujuan dari studi tersebut. Ada tiga spek yang perlu diperhatikan terkait dengan hal ini yaitu : (1) Pavlov memiliki keyakinan yang kuat bahwa kesalahan dalam melihat fakta/kenyataan oleh para peneliti dalam ilmu pengetahuan alam disebabkan karena kebanyakan mereka hanya menerangkan alam dari sudut pandangannya saja, dan juga tidak menerangkan bagaimana seharusnya proses alam dijalankan. (2) Hal yang paling penting untuk mengetahui alam dari proses pembelajaran yang kompleks adalah dengan memahami bentuk dasar dari proses tersebut. (3) Dia mengatakan bahwa sekurang-kurangnya 2 cara yang mana conditioned reflex yang simple dapat menjadi proses pembelajaran yang kompleks.
C. Guthries’s one-Trial contiguity conditioning.
Guthrie mengungkapkan bahwa fenomena psikologi memiliki hubungan fisik. Dia masih memperdebatkan bahwa psikologi harus berdiri sendiri sebagai satu ilmu pengetahuan dan hal ini seharusnya menjadi bersifat psikologikal dasar. Guthrie menyimpulkan bahwa pembelajaran diartikan sebagai proses penguatan atau percobaan, sedangkan penguatan itu sendiri muncul sebagai hasil dari latihan (practice). Jadi dia mengungkapkan bahwa peristiwa sebagai hasil dari latihan merupakan aspek yang penting bagi makhluk hidup, dan di hubungkan dengan hasil dari respons tersebut.
D. Hipotetiko-deduktif stimulus-reduksi dari Hull
Clar L. Hull (1884-1952) adalah teoritis belajar yang ide-idenya mempunyai pengaruh paling besar pada penelitian dan teori belajar pada tahun 1930-1940. Beberapa penulis menyebut teorinya sebagai S-O-R (stimulus-organism-respons), yang pada intinya tingkah laku dari seseorang tidak dapat diramalkan hanya dari sisi stimuli saja. Ia melukiskan bahwa belajar adalah membentuk kebiasaan dan sedikit penguatan harus diberikan untuk menambah kekuatan kebiasaan itu. Penguatan itu terjadi sebagai akibat dari stimulus-respon. Sebagai tambahan, banyaknya penguatan akan berpengaruh pada prilaku bukan pada pembelajaran.
E. Opperant Conditioning dari Skinner.
Seperti Hull, Skinner sangat dipengaruhi oleh pekerjaan Pavlov dan Thorndike. Jadi ada kesamaan dengan Hull, tetapi pengaruh Hull mulai menghilang sejak tahun 1950, sedangkan Skiner makin berpengaruh pada psikologi dasar dan terapan. Skinner membuat suatu pernyataan baru. Bahkan dia pernah dijuluki beberapa orang yang melakukan penelitian tanpa menggunakan teori. Skiner menggunakan istilah “operant conditioning ” dalam teori belajarnya yang pada dasarnya bermula dari “law of effect” dari Thorndike yang mempelajari kondisi yang dikontrol dari efek behavior dan lingkungan.
Skinner juga mengungkapkan bahwa pusat dasar psikologi seharusnya berkaitan dengan hubungan yang sistematis antara prilaku dan konsekuensinya tanpa adanya referensi terhadap korelasi psikologi atau status internal lainnya. Dia mengungkapkan pendapat yaitu, dengan memilih operant conditioning daripada instrumental conditioning bahwa instrumental lebih sesuai dengan tujuan pada studi yang diambil. Seperti halnya dia memilih penguatan dari pada mamberikan hadiah karena dapat mengakibatkan hubungan yang tidak baik, hubungan yang skinner anggap terlalu mentalistik dan tidak scientific.
F. The Classical Gestalt conception of learning
Gestalt menekankan teorinya pada satu konsep filosofi manusia dalam menyaring teoritis model dan prosedure penelitian. Mereka memilih karakter manusia sebagai sesuatu yang memiliki arti dan struktur di sekitar lingkungan mereka. Tetapi teori gestalt menerangkan bahwa psikologi seharusnya dialihkan untuk memahami kemampuan manusia untuk melihat pentingnya hubungan dan strukturnya dari pada hanya mengidentifikasi bagaimana seseorang melakukan sesuatu tanpa tau caranya tapi hanya dipengaruhi oleh emosi dan kondisi lingkungan.
Gestalt menerapkan satu pendekatan “insightful learning”. Yaitu, ketika seseorang mengalami suatu masalah, orang tersebut akan memikirkan berbagai macam solusi untuk masalah tersebut. Gestalt juga mengadaptasi prinsip persepsi sebagai satu inti yang menggambarkan proses pembelajaran. Oleh sebab itu insightful learning juga digambarkan sebagai perceptual reorganization, yang mana solusi dari pada suatu masalah di dapatkan dari berbagai cara karena adanya situasi masalah tersebut. Gestalt lebih mengarah pada prilaku yang seketika mempengaruhi pembelajaran yang baru saja terjadi daripada mengartikan pembelajaran tersebut.
G. Behaviorisme Kognitif dari Tolman
Edward Chance Toldman (1886-1959) mengusulkan teori “proposed behaviorism” (behaviorism yang purposif) yang didalamnya mencakup segi positif dari konsep kognitif dan behavioristik. Ia menganggap bahwa teori psikologi sebagai ilmu yang benar, harus membahas tujuan akhir dari suatu proses. Dia juga memperkenalkan proses kognitif internal sebagai pengertian utama dari perilaku dan pusat pembahasan psikologi sebagai ilmu pengetahuan murni. Dia mengatakan bahwa pembelajaran diartikan sebagai suatu perkembangan , integrasi, dan penemuan dari kesiapan teori Gestalt dan harapannya. (Tolman, 1932, p.319). Ia mengakui keberadaan tiga teori belajar yang bersaing (teori refleks yang terkondisi, teori trial and eror dan teori gestalt) dan juga kombinasi dari teori tersebut. Dia menerangkan bahwa pembelajaran harus terobservasi dalam suatu situasi dan proses real (tindak nyata) merupakan sentralnya.

8. Functionalism dan teori pembelajaran
Satu hal yang menjadi dasar penelitian dan penerapan teori bahwa kejelasan adanya pendekatan functionalistic. Secara umum, hal ini meliputi adanya tiap masalah yang bersifat teoritis dan tiap masalah terhadap guna atau manfaatnya, dan berupaya untuk menggunakannya dalam mengatasi suatu isu atau masaalah baru. Intinya, tiap teori pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan fungsi dan gunanya terhadap suatu masalah.

9. Perkembangan pemahaman Teori pembelajaran.
Suatu isu yang terdiri dari fenomena psikologi adalah sebagai tiang penyokong suatu pembelajaran. Banyak pertanyaan yang akan muncul dan terjawab seiring dengan adanya pemahaman akan pembelajaran tentang kognitif map. Pembelajaran sebenarnya merupakan proses penciptaan suatu respon yang diartikan sebagai suatu kepercayaan bahwa neuropsikologi berubah selama pembelajaran masih tidak ada sentralnya. Sebaliknya, mereka yag mengungkapkan bahwa beberapa struktur kognitif adalah penting dalam pembelajaran.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: